Home / Edukasi

Minggu, 13 Februari 2022 - 21:44 WIB

Beda Pemahaman Tentang Isra Mikraj (3)

Ilustrasi Masjid Mujahidin Pontianak di Jalan Ahmad Yani Kota Pontianak. Foto: Anton Widiarmo/pontianak-times.co.id

Ilustrasi Masjid Mujahidin Pontianak di Jalan Ahmad Yani Kota Pontianak. Foto: Anton Widiarmo/pontianak-times.co.id

Berdasarkan kajian-kajian sebelumnya, Baca: pada bagian 1 dan Baca: Bagian 2, peristiwa Isra Mikraj Rasulullah itu penuh makna simbolik. Kita perlu menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Isra sebagai awal  perjalanan Nabi Muhammad Shalallahu “Alaihi Wasallam adalah perjalanan yang setara jarak kurang  lebuh 1.350 kilometer. Jarak yang jauh saat itu.

Makna kisah perjalanan malam hari dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha pada hakikatnya memberikan hikmah yang dalam tentang adanya gerakan sejajar (horizontal).

Hal ini menandakan apabila kita ingin sukses dalam urusan keduniaan dan sekaligus keakhiratan, harus mampu melaksanakan komunikasi dengan lingkungan sekitar. Interaksi yang seimbang dengan sesama manusia, selalu menjalin silaturrahim, koordinasi maupun konsolidasi sesama umat.

Peristiwa ini merupakan simbol yang menyadarkan kita pada firman-Nya tentang pentingnya menjaga hubungan dengan alam sekitar dan sesama manusia.

Sedangkan perjalanan Nabi dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha secara tersirat telah memberikan arti dan penekanan tentang peran dan fungsi masjid yang sangat  strategis, sehingga terdapat dalam historis napak tilas perjalanan Rasulullah.

Kemudian napak tilas tersebut menunjukkan bahwa masjid menjadi solusi segala urusan. Karena sebenarnya masjid bukan hanya tempat ibadah mahdoh,  namun lebih dari itu sebenarnya sebagai pusat  kegiatan dan kebudayaan umat Islam.

Baca juga:  Beda Pemahaman Tentang Isra Mikraj (2)

Mengenai Mikraj yang bermakna tangga atau tempat naik yang secara implisit juga berarti tempat  turun, memperlihatkan makna garis hirarkis, gerakan vertikal (tegak lurus). Hal ini mengandung arti dalam melakukan perjuangan memerlukan kesiapan fisik,  mental, dan ilmu.

Semuanya itu memerlukan sikap istiqomah  (konsekuen  dan konsisten) dalam merealisasikan fungsi kekhalifaan. Manusia  sangat memerlukan tuntunan dari penguasa tunggal Al-Khalik  Al-’Alam, yang pada-Nya terdapat hubungan garis konsultatif dan garis  komando. Inilah namanya Hablun min Allah.

Makna  lain dari peristiwa  ini, memberikan arti seorang khalifah harus memperhatikan hubungannya dengan atasan maupun dengan  bawahan. Hal ini juga mengingatkan kita pada pernyataan yang sedikitnya kita ucapkan 17 kali sehari semalam ketika menunaikan ibadah salat.

Pernyataan tersebut  adalah pengakuan bahwa hanya kepada Allah kita menyembah dan memohon  pertolongan (QS.1 : 5). Kesadaran tersebut, meneguhkan kepada eksistensi Tuhan sebagai tempat manusia bergantung dan berharap. (QS.112 : 2).

Selanjutnya kendaraan Buraq yang menjadi kendaraan Rasulullah ketika Mikraj berarti ‘kilat’, memberikan makna dan isyarat bahwa: Melaksanakan setiap pekerjaan/perjuangan tanpa menunda, dengan memperhatikan efektivitas dan efisiensi. Dalam melaksanakan suatu tugas, selain kesiapan fisik, mental dan ilmu pengetahuan, juga harus mampu memanfaatkan atau menguasai teknologi.

Baca juga:  Siswa PAUD Babul Jannah Pawai Keliling

Mengenai jenis kendaraan pada perjalanan istimewa ini, memang diberitakan oleh beberapa hadis dengan gaya bahasa yang sesuai dengan daya tangkap dan perkembangan teknologi transportasi pada saat itu. Sehingga hanya dikatakan … lebih kecil sedikit dari kuda atau lebih besar dari  keledai, yang kecepatannya sejauh mata memandang ..

Pernyataan Nabi yang diplomatis ini memerlukan pemahaman dalam kondisi bangsa Arab yang menggunakan transportasi hewan kuda dan unta.  Sehingga terlalu sulit untuk menjelaskan bagaimana kendaraan yang sesungguhnya.

Sebagai penutup dari tulisan ini, bahwa peristiwa Isra Mikraj itu merupakan peristiwa misterius,  peristiwa yang strategis, dan penuh makna simbolik. Kita perlu terus menerjemahkan dalam bahasa manusia.

Peristiwa ini  sangat dahsyat untuk memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Subhanahu Wata’Ala sekaligus sebagai bukti kemukjizatan Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebagai umat beriman, kita harus mampu mengambil hikmah dan pelajaran  dari  peristiwa agung ini dengan cara meningkatkan kesehatan badaniah, rohaniah, ilmu pengetahuan dan teknologi. Semoga. (tamat)

  • Penulis : Dr H Munawar MSi – Dosen Senior Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak
  • Editor : R. Rido Ibnu Syahrie

Share :

Baca Juga

Operasi Bina Karuna 2023

Edukasi

Apel Operasi Bina Karuna Tangani Karhutla
Peserta dan tamu undangan Seminar Internasional dan Upgrading Dai garapan Parmusi Provinsi Kalimantan Barat.

Edukasi

Dai Ujung Tombak Ketahanan Pangan Perbatasan
Satono bersama siswa SD dan SMP Islam Terpadu (IT) Sulthoniyah Sambas, Selasa (20/5/2025) di Aula Utama Kantor Bupati Sambas.

Edukasi

Kembalikan Kejayaan Pendidikan Islam di Sambas
Tes Kesamaptaan Poltekip dan Poltekim

Edukasi

6 Peserta Tes Samapta Poltekip/Poltekim
Prof Dr H Sumar'in SEI MSi Ketua MUI Kabupaten Sambas.

Edukasi

MUI Sambas Imbau Jaga Ketertiban, Jangan Terprovokasi
Pameran Virtual Inaya Kayan Indonesia, bentuk perlawan dari perempuan adat Long Pelban.

Edukasi

Inaya Kayan Indonesia Luncurkan Perlawanan Perempuan Adat Long Pelban
Sulhan anak nelayan asal Jawai Kabupaten Sambas

Edukasi

Anak Nelayan Asal Sambas Diwisuda Menteri
pontianak-times.co.id

Edukasi

Hanura Singkawang Umrohkan Marbot Masjid
error: Content is protected !!