DELAPAN tahun terakhir, politik Indonesia semakin dipenuhi polarisasi. Perbedaan pilihan politik kerap menjadi permusuhan sosial, bahkan memutus hubungan pertemanan dan kekeluargaan.
Di tengah situasi seperti itu, warisan politik almarhum Taufik Kiemas terasa relevan untuk kembali dibaca. Bagi Taufik Kiemas, politik bukan sekadar perebutan kekuasaan. Politik adalah seni membangun persahabatan.
Tepat pada peringatan haul ke-13 Taufik Kiemas, publik patut mengenang salah satu pesan politiknya yang paling sederhana, tetapi paling sulit dipraktikkan, yakni “politik itu berteman.”
Pandangan itu tidak lahir begitu saja. Ia terbentuk dari perjalanan hidup dan lingkungan keluarga yang unik. Taufik Kiemas lahir dalam tradisi keluarga Masyumi yang kuat. Ayahnya, Tjik Agus Kiemas, merupakan tokoh yang tumbuh dalam tradisi politik Islam. Masa kecil Taufik berlangsung ketika perdebatan antara kelompok Islam dan nasionalis sedang mencapai puncaknya.
Namun, ada pelajaran penting dari era itu. Perbedaan pandangan memang tajam, tetapi tidak menghapus rasa persaudaraan. Para tokoh bangsa saling berdebat keras di parlemen maupun Konstituante, tetapi tetap menghormati satu sama lain sebagai sesama anak bangsa.
Budaya politik seperti itulah yang membentuk karakter Taufik Kiemas. Ketika memasuki bangku kuliah, Taufik justru memilih bergabung dengan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), organisasi yang identik dengan pemikiran Bung Karno.
Masyumi
Pilihan itu membuat ayahnya sedih hingga menitikkan air mata. Anak seorang tokoh Masyumi memilih organisasi yang dianggap berseberangan secara politik. Namun, keputusan tersebut menunjukkan keberanian Taufik keluar dari sekat-sekat ideologis yang selama ini membelah masyarakat Indonesia.
Sejarawan Prof. Azyumardi Azra pernah mengemukakan bahwa pilihan Taufik bergabung dengan GMNI sangat mungkin didorong oleh semangat memperluas wawasan dan jaringan keislaman di lingkungan yang berbeda.
Taufik sendiri mengakui bahwa sejak kecil ia sudah mendapatkan pendidikan Islam dari keluarganya. Karena itu, ia ingin memahami kelompok lain agar memiliki perspektif yang lebih luas.
Pilihan tersebut menjadi eksperimen politik yang menarik. Jauh sebelum istilah pluralisme dan moderasi beragama menjadi tema besar dalam diskusi publik, Taufik Kiemas sudah mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Ia tidak melihat Islam dan nasionalisme sebagai dua kutub yang harus dipertentangkan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan bersama untuk memperkuat Indonesia.
Cara pandang itu terlihat sepanjang perjalanan politiknya. Taufik Kiemas dikenal sebagai tokoh yang gemar berdiskusi dengan siapa saja. Ia hadir dalam forum lintas partai, lintas organisasi, dan lintas agama. Baginya, pergaulan politik harus lebih luas daripada batas-batas ideologi. Modal sosial itu membuat banyak gagasannya diterima berbagai kelompok.
Gagas 4 Pilar
Ketika menjabat Ketua MPR RI, Taufik Kiemas menggagas sosialisasi Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Gagasan tersebut mendapat dukungan luas dari berbagai fraksi di parlemen.
Bahkan, pemilihannya sebagai Ketua MPR berlangsung melalui musyawarah mufakat. Di tengah demokrasi yang semakin kompetitif, Taufik menunjukkan bahwa konsensus masih mungkin dibangun.
Kemampuan membangun konsensus tidak hanya lahir dari kecerdasan politik. Banyak orang mengenal Taufik sebagai pribadi yang luwes, terbuka, dan gemar bercanda.
Ia pernah mengatakan bahwa orang yang tidak mampu mencandai dirinya sendiri akan sulit maju. Humor, bagi Taufik, bukan sekadar hiburan, melainkan cara menjaga kesehatan mental dan mengendalikan ego.
Sikap itulah yang membuatnya diterima di berbagai kalangan, termasuk di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni HMI (KAHMI). Saat menghadiri pelantikan Majelis Nasional KAHMI pada 2010, Taufik bahkan bercanda dengan menantang kader HMI untuk menjadi Presiden Republik Indonesia.
Candaan itu justru mempererat hubungan antarkelompok yang selama ini sering dipersepsikan berbeda secara ideologis. Pada kesempatan yang sama, KAHMI mengangkat Taufik Kiemas sebagai anggota kehormatan.
Kemampuan mendengar dan berdialog juga tampak ketika PDI Perjuangan mengalami penurunan suara pada Pemilu 2004. Salah satu kritik yang berkembang saat itu menyebut partai tersebut kurang dekat dengan umat Islam.
Alih-alih membantah, Taufik memilih turun langsung ke masyarakat. Ia mengunjungi masjid, musala, pesantren, organisasi Islam, dan bertemu berbagai tokoh Muslim, seperti Prof. Din Syamsuddin, Buya Syafii Maarif, KH. Hasyim Muzadi, KH. Said Aqil Siradj, hingga Akbar Tanjung.
Baitul Muslimin
Dari proses mendengar itulah lahir gagasan mendirikan Baitul Muslimin Indonesia, organisasi yang menjadi jembatan antara nilai-nilai Islam dan perjuangan kebangsaan PDI Perjuangan.
Bagi Taufik Kiemas, Indonesia harus menjadi rumah besar bagi semua golongan. Ia sering mengingatkan bahwa Pancasila dan Islam bukan dua kekuatan yang saling meniadakan, melainkan saling memperkaya dalam perjalanan sejarah bangsa.
Karena itu, Taufik selalu berpesan agar Baitul Muslimin Indonesia memperluas pergaulan dan membangun jejaring dengan siapa saja. Pesan itu sederhana, tetapi memiliki makna politik yang dalam.
Di tengah meningkatnya polarisasi, politik identitas, dan kecenderungan mengelompok berdasarkan agama, suku, atau pilihan politik, warisan Taufik Kiemas menawarkan pendekatan yang berbeda. Politik tidak harus menghasilkan permusuhan. Perbedaan tidak harus melahirkan kebencian.
Politik yang sehat adalah politik yang mempertemukan berbagai kelompok untuk mencari titik temu demi kepentingan bangsa.
Mungkin inilah pelajaran terbesar yang diwariskan Taufik Kiemas kepada Indonesia. Bahwa kekuatan seorang politisi tidak hanya diukur dari kemampuannya memenangkan pemilu atau merebut kekuasaan, tetapi juga dari kemampuannya menjalin persahabatan di tengah perbedaan.
Sebab, seperti yang berulang kali ia sampaikan, politik pada akhirnya bukan tentang mencari lawan. Politik adalah berteman.
[Penulis: Mahmudin Muslim – Alumni HMI, Baitul Muslimin Indonesia dan aktivis Sosial Politik ] – Google News Pontianak Times



















