KUBU RAYA – Batu Ampar membangun ekowisata berbasis masyarakat melalui pengelolaan lingkungan, UMKM, kopi liberika, mangrove, dan kolaborasi multipihak.
Perjalanan menuju Desa Batu Ampar, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya, dimulai sejak subuh. Longboat bermesin 200 PK yang didukung PBPH Wana Subur Lestari membawa rombongan.
Mereka terdiri dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Barat, tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Kepala BPPEGM, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya dari Dermaga Sei Kelabau menuju kawasan pesisir Delta Kapuas.
Di atas perahu, kopi liberika menjadi teman perjalanan. Aroma khasnya seolah memperkenalkan identitas Batu Ampar sejak awal. Bukan sekadar komoditas, kopi liberika mulai dipandang sebagai bagian dari narasi ekonomi lokal yang dapat tumbuh bersama sektor wisata.
Setibanya di Dermaga Batu Ampar, rombongan singgah di warung kopi yang berdiri sederhana di tepi pelabuhan. Dari tempat itu terlihat gambaran awal bagaimana ruang-ruang kecil di desa dapat berkembang menjadi simpul aktivitas wisata dan ekonomi masyarakat.
Kunjungan tersebut bertepatan dengan rangkaian kegiatan yang dipimpin langsung Bupati Kubu Raya, Sujiwo. Agenda dimulai dengan gerakan CUAN atau Clean Up Action yang melibatkan masyarakat, perangkat desa, BPD, akademisi, dunia usaha, media, dan komunitas.
Melalui kegiatan itu, warga membersihkan jalan, pasar, serta lorong-lorong desa dari sampah plastik, organik, dan anorganik. Namun lebih dari sekadar aksi kebersihan, CUAN menjadi instrumen edukasi lingkungan yang bertujuan membangun kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga ruang hidup bersama.
Komitmen terhadap lingkungan kemudian diperkuat melalui penanaman pohon di kawasan Taman Desa Batu Ampar. Pada kesempatan yang sama, pemerintah dan para mitra menyerahkan bibit tanaman serta 21 unit bak sampah terpilah.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata tidak hanya bertumpu pada keindahan alam. Kebersihan, kesehatan lingkungan, dan sistem pengelolaan sampah yang efektif menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan destinasi wisata.
Pilar Wisata
Setelah kegiatan lingkungan, agenda berlanjut dengan pembukaan pelatihan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di balai desa.
Pelatihan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam strategi pengembangan wisata berbasis masyarakat. Kehadiran wisatawan tidak otomatis menciptakan kesejahteraan apabila masyarakat lokal belum memiliki kapasitas untuk menangkap peluang ekonomi yang muncul.
Melalui pelatihan itu, warga didorong meningkatkan kualitas produk, memperbaiki kemasan, memperkuat pelayanan, serta mengembangkan usaha yang dapat mendukung sektor pariwisata.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep Community Based Ecotourism yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, bukan sekadar penonton dari pertumbuhan sektor wisata.
Gowes Hingga Budidaya Kepiting
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan gowes sepeda menyusuri sejumlah kawasan desa. Aktivitas tersebut menjadi cara untuk melihat secara langsung kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan masyarakat.
Di sepanjang perjalanan, rombongan meninjau berbagai potensi lokal yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga. Salah satunya adalah pengembangan kopi liberika yang dinilai memiliki peluang besar sebagai komoditas unggulan sekaligus daya tarik wisata.
Potensi lain terlihat pada sektor budidaya kepiting yang berkembang di kawasan mangrove. Selain bernilai ekonomi tinggi, keberadaan kepiting juga menjadi indikator bahwa ekosistem pesisir masih berfungsi dengan baik.
Dalam perspektif pembangunan berkelanjutan, keberhasilan menjaga ekosistem mangrove tidak hanya berdampak pada konservasi lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap kesejahteraan masyarakat pesisir.
Wajah Baru Batu Ampar
Menjelang siang, rombongan meninjau Bukit Ilalang yang mulai diproyeksikan sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Batu Ampar.
Hamparan ilalang (Imperata cylindrica) yang menutupi perbukitan menghadirkan panorama unik. Dari puncaknya terlihat bentangan laut, gugusan mangrove alami, serta lanskap pesisir Delta Kapuas yang masih hijau.
Potensi tersebut membuka peluang pengembangan wisata alam berbasis pengalaman, mulai dari trekking ringan, wisata fotografi, hingga kegiatan rekreasi yang menawarkan ketenangan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Kawasan ini menunjukkan bahwa wisata tidak selalu harus bertumpu pada infrastruktur besar. Lanskap alami yang terjaga sering kali menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang mencari pengalaman autentik.
Ekowisata
Pada sore hari, kegiatan berlanjut dengan penanaman kelapa genjah di Sungai Amoy. Bersama kopi liberika, mangrove, budidaya kepiting, serta lanskap Bukit Ilalang, komoditas tersebut menjadi bagian dari mozaik potensi yang dimiliki Batu Ampar.
Bupati Kubu Raya Sujiwo menekankan pentingnya membangun pariwisata yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep Community Based Ecotourism yang menempatkan masyarakat sebagai pusat pengelolaan dan penerima manfaat pembangunan.
Konsep ini bertumpu pada empat komponen utama atau 4A, yakni Attraction, Accessibility, Amenities, dan Ancillary Services.
Dari sisi attraction, Batu Ampar memiliki kekayaan bentang alam mangrove, wisata bahari, kopi liberika, budidaya kepiting, hingga kawasan perbukitan. Pada aspek accessibility, pemerintah mendorong peningkatan kualitas dermaga, jalan lingkar desa, penerangan jalan, serta transportasi sungai yang lebih nyaman.
Sementara itu, amenities diperkuat melalui pengembangan UMKM, ruang publik, fasilitas kebersihan, serta pelatihan masyarakat. Adapun ancillary services dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah provinsi, akademisi, dunia usaha, komunitas, lembaga keuangan, media, dan masyarakat.
Kolaborasi
Dukungan terhadap pengembangan Batu Ampar juga datang dari berbagai kalangan, termasuk unsur legislatif, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.
Keterlibatan PT Belantara Sejahtera Mandiri bersama SAMPAN Kalimantan dalam pengembangan Delta Kapuas Project menunjukkan bahwa pembangunan hijau membutuhkan dukungan yang lebih luas dibandingkan sekadar pembiayaan pemerintah.
Pendanaan berkelanjutan, pendampingan akademik, keterlibatan komunitas, dan kebijakan yang konsisten menjadi faktor penting agar pengembangan kawasan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan wilayah pesisir, Batu Ampar menawarkan pendekatan berbeda. Desa ini berupaya membangun ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan, mengembangkan wisata tanpa kehilangan identitas lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan.
Perjalanan sehari di Batu Ampar memperlihatkan bahwa pembangunan tidak selalu dimulai dari proyek besar. Ia dapat tumbuh dari langkah-langkah sederhana, mulai dari menanam pohon, memilah sampah, memperkuat UMKM, menjaga mangrove, hingga merawat secangkir kopi liberika yang menjadi simbol harapan masa depan desa. [tim satukata]
Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















