Home / Kolom

Minggu, 4 Januari 2026 - 17:01 WIB

Borgol Paman Sam: Keadilan atau Arogansi Imperialis?

Gambar ilustrasi Borgol Paman Sam

Gambar ilustrasi Borgol Paman Sam

Dunia internasional kembali disuguhi tontonan teater geopolitik yang menegangkan, namun sekaligus memprihatinkan. Negeri Paman Sam begitu agresif mendakwa Presiden Venezuela yang masih menjabat, Nicolás Maduro.

Nicolas beserta istrinya, Cilia Flores ditangkap Amerika Serikat yang berjuluk Paman Sam, atas tuduhan serius “narko-terorisme” dan korupsi. Tentu, ini bukan sekadar berita hukum biasa.

Ini adalah sebuah preseden berbahaya dalam hubungan internasional, sebuah manifestasi nyata dari arogansi kekuasaan adidaya yang merasa berhak menjadi polisi, hakim, sekaligus algojo bagi negara lain yang berdaulat.

Tindakan Washington ini—yang bahkan disertai sayembara jutaan dolar untuk kepala Maduro—memunculkan pertanyaan mendasar yang menggelisahkan: Di mana batas antara penegakan keadilan internasional dan intervensi politik terselubung?

Premis utama kritik terhadap tindakan ini terletak pada validitas tuduhan itu sendiri. Melabeli seorang kepala negara aktif sebagai pemimpin kartel narkoba adalah tuduhan yang luar biasa berat. Namun, dalam lanskap politik global yang penuh intrik, tuduhan luar biasa memerlukan bukti yang juga luar biasa—sesuatu yang hingga kini belum dibuka secara transparan oleh AS ke mata dunia.

Kita harus skeptis. Mengapa tuduhan ini mencuat begitu kencang justru ketika tensi politik antara Washington dan Caracas memuncak? Sulit untuk tidak melihat korelasi antara upaya AS menggulingkan rezim Maduro demi kepentingan pengaruh di Amerika Latin (dan cadangan minyak Venezuela yang masif) dengan “temuan” hukum mendadak ini.

Baca juga:  Larangan Kantong Plastik, antara Idealisme dan Realisasi

Ketika hukum digunakan sebagai senjata kebijakan luar negeri, keadilan menjadi buram. Narasi yang dibangun terkesan “bersalah sampai terbukti sebaliknya”.

AS seolah meminta dunia percaya begitu saja pada klaim intelijen mereka, melupakan sejarah panjang fabrikasi alasan untuk memulai intervensi di negara lain—ingat senjata pemusnah massal di Irak yang tak pernah ditemukan? Tanpa proses peradilan internasional yang independen dan bukti yang tak terbantahkan, dakwaan terhadap Maduro dan Flores terasa lebih seperti manuver politik daripada upaya murni memberantas narkotika.

Serangan Frontal

Lebih jauh dari sekadar masalah bukti, tindakan AS ini adalah serangan frontal terhadap konsep kedaulatan negara. Dalam hukum internasional, seorang kepala negara yang masih menjabat memiliki imunitas tertentu. Mencoba menangkap, mengadili, dan memenjarakan pemimpin negara lain di pengadilan domestik AS adalah bentuk arogansi yang luar biasa.

Baca juga:  Alarm Krisis Gizi, Luka Mental dan Ilusi Produktivitas

Ini mengirimkan sinyal mengerikan ke seluruh dunia: jika Anda tidak sejalan dengan kepentingan Washington, maka kedaulatan Anda tidak berlaku. Hari ini Venezuela, besok bisa jadi negara lain yang pemimpinnya dianggap “mengganggu” kepentingan Paman Sam.

Tindakan ini meruntuhkan norma diplomatik dan menciptakan hukum rimba di mana yang kuat bisa seenaknya menentukan nasib pemimpin negara yang lebih lemah. Jika setiap negara kuat mulai mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pemimpin negara lain yang mereka benci, sistem internasional akan runtuh ke dalam anarki.

Apa yang dilakukan AS terhadap Maduro dan istrinya bukanlah tentang menegakkan hukum, melainkan tentang menegaskan dominasi. Ini adalah bentuk imperialisme modern yang dibungkus dengan kertas dakwaan federal.

Dunia seharusnya tidak tinggal diam melihat pertunjukan kekuasaan yang sewenang-wenang ini. Menormalisasi tindakan AS ini berarti membuka pintu bagi era baru di mana kedaulatan nasional hanyalah sebuah ilusi di bawah bayang-bayang kekuasaan adidaya. Keadilan harus ditegakkan, tetapi tidak melalui laras arogansi.

Opini Redaksi I Update Berita, ikuti Google News

Share :

Baca Juga

Beni Sulastiyo

Kolom

Kecerdasan Perang Dagang
R. Rido Ibnu Syahrie, penulis di Kantor Redaksi Pontianak Times.

Kolom

Kapuas Raya, Janji Dua Dekade yang Menggantung
M. Irzam Abdillah (Ketua Umum PB ISKAB 2026-2028)

Kolom

Surat Cinta PB ISKAB untuk Pemprov Kalbar di Usia ke-69 Tahun
M Taufik, Mahasiswa S3 Kesehatan Masyarakat FK-Unand dan Dosen FIKPsi Universitas Muhammadiyah Pontianak

Kolom

Alarm Krisis Gizi, Luka Mental dan Ilusi Produktivitas
Sejarah perang dan apa pentingnya mengetahui sejarah ini

Kolom

Kuasa Pemenang Perang
Foto ilustrasi hubungan toxic dua negara, AS dan Iran

Kolom

Hubungan Toxic AS vs Iran: Dompet Kita Terancam?
Khairul Rahman, Editor in Chief Pontianak Times dan Pimpinan Baznas Provinsi Kalbar

Kolom

Cahaya Zakat, Keajaiban Muzaki dan Mustahik
Hermawansyah, kolumnis, aktivis reformasi dan pegiat sosial, salah seorang pendiri Gemawan-Lembaga Pengembangan Masyarakat Swandiri

Kolom

Ekosistem Perjuangan Masyarakat Sipil
error: Content is protected !!