SINGAPURA — Jarak dan batas negara tidak menyurutkan semangat kepedulian seorang pemuda asal bumi Khatulistiwa. Nathan Alexandro Tjhe, remaja berusia 17 tahun asal Pontianak, Kalimantan Barat, berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional sekaligus membawa dampak nyata bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Siswa yang kini menempuh pendidikan di ACS (International) Singapore ini baru saja menerima hibah internasional bergengsi senilai US$2.500 (sekitar Rp43.000.000). Dana tersebut diperuntukkan bagi pengembangan proyek sosial yang diinisiasinya, bernama “Peduli Initiative”.
Lahirnya Peduli Initiative bukan tanpa alasan. Nathan melihat adanya tantangan struktural dan ketimpangan yang kerap dialami oleh pahlawan devisa negara, khususnya di Singapura dan sekitarnya. Melalui inisiatif ini, Nathan merancang program strategis untuk memberdayakan dan mengadvokasi para PMI.
Langkah mulia ini tidak berjalan sendirian. Peduli Initiative telah mendapat dukungan penuh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura serta Perhimpunan Pelajar Indonesia di Nanyang Technological University (PINTU). Kolaborasi ini memperkuat legitimasi dan daya jangkau program di lapangan.
Hibah yang diterima Nathan bukan sembarang pendanaan. Dana ini bersumber dari International Baccalaureate (IB) Global Youth Action Fund. Tahun ini, seleksi berlangsung sangat ketat. IB hanya memilih 110 proyek yang dipimpin oleh pemuda—mewakili 324 anak muda—dari total lebih dari 1.100 pendaftar yang berasal dari 40 negara lebih.
Pencapaian ini mencatatkan sejarah tersendiri. Peduli Initiative menjadi penerima hibah ketiga di Singapura dan yang pertama kalinya sepanjang sejarah berdirinya institusi ACS (International).
Gerakan Masif
Apa yang dimulai sebagai gagasan pemuda 17 tahun kini telah berevolusi menjadi gerakan yang masif. Saat ini, Peduli Initiative telah melebarkan sayapnya menjadi tiga chapters wilayah operasi: Singapura, Pontianak & Kubu Raya, serta Aceh. Mereka menyalurkan berbagai program bantuan sosial tidak hanya bagi PMI di luar negeri, tetapi juga bagi masyarakat yang membutuhkan di Tanah Air.
Dampak yang dihasilkan patut diapresiasi. Secara akumulatif, gerakan ini telah menjangkau lebih dari 50.000 orang melalui berbagai kampanye edukasi dan berhasil menggalang kekuatan dari 600 pendukung aktif di media sosial. Ke depannya, rencana ekspansi ke wilayah lain sedang dipersiapkan secara matang.
Di lingkungan akademisnya, karya nyata Nathan mendapat pengakuan tertinggi. Peduli Initiative dinobatkan sebagai Best Project karena dianggap memberikan dampak terbesar dalam sejarah sekolah. Lebih dari sekadar proyek sesaat, inisiatif ini dirancang agar berkelanjutan (sustainable). Peduli menjadi proyek pertama yang secara resmi diteruskan kepada generasi berikutnya, di mana tongkat estafet kepemimpinan akan dilanjutkan oleh batch 2026-2027 setelah Nathan lulus.
Di luar proyek ini, dedikasi Nathan dalam isu-isu sosial juga membawanya terpilih sebagai salah satu dari Best 60 Youth Leaders oleh Ministry of Culture, Community and Youth (MCCY) pemerintah Singapura.
Kisah Nathan membuktikan bahwa pemuda daerah mampu menjadi motor penggerak perubahan di kancah global. Bagi publik yang ingin melihat lebih dekat pergerakan aksi sosial ini, kegiatan mereka didokumentasikan secara aktif melalui laman Instagram di akun @peduli.initiative.
Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















