Home / Historia

Selasa, 15 Februari 2022 - 14:16 WIB

Konflik Gapura Kembar Kota Singkawang

Proses pengecatan Gapura Selamat Datang di Kota Singkawang. Foto: pontianak-times.co.id

Proses pengecatan Gapura Selamat Datang di Kota Singkawang. Foto: pontianak-times.co.id

Singkawang. Warga Singkawang bergotong royong mengecat setiap bagian pada gapura selamat datang seperti ornamen, loggo, ukiran dan lukisan timbul. Upaya ini pasca rencana pembongkaran gapura bersejarah tersebut oleh Pemkot Singkawang.

“Semua itu secara swadaya karena terpanggil untuk memelihara aset yang memiliki kerkaitan dengan sejarah kota ini,” kata salah seorang aktivis Kota Singkawang, Hana, Senin (14/2/2022).

Menurut Hana, gerbang tersebut menjadi bagian tak terpisahkan dari konsep pariwisata. Harus ada kejelasan konsep dan terarah agar tidak menciderai aspek sejarah, seni, budaya dan kearifan lokal. 

“Saya sangat mendukung visi kota singkawang yang menjadikan sektor pariwisata sebagai andalan dalam mewujudkan Singkawang hebat. Namun tidak merusak warisan pendahulu,” ujar Hana merespons rencana penggusuran gerbang yang terletak dekat Bundaran 1001 itu.

Tokoh sekaligus budayawan Kota Singkawang, Johari, paling gencar menolak rencana Pemkot Singkawang itu. Beranda akun sosial media milik Johari bahkan memuat narasi bertubi-tubi. Ia menilai gerbang selamat datang tersebut menjadi simpul kerukunan berbangsa dan bernegara.

Menurutnya, panji nilai-nilai budaya kearifan lokal tersimpul utuh dalam sebuah karya anak bangsa. Gerbang atau gapura merupakan bentuk bangunan arsitektur bermakna sebagai tanda penghormatan bagi pelaku perjalanan, pengunjung maupun tamu yang tiba. Juga bagi yang meninggalkan batas wilayah tujuan suatu daerah.

“Seiring berkembangnya inovasi, gerbang tidak lagi sebagai batas wilayah. Tetapi berisi pesan pesan semiotika sosial budaya yang mengandung simbol-simbol nilai budaya kearifan lokal daerah setempat,”papar Bang Jo, sapaan akrab Johari.

Sebelumnya, warga berkerumun di gerbang selamat datang, Kamis (27/1/2022). Mereka menyatakan menolak rencana Pemkot Singkawang yang hendak membongkar gerbang. Penolakan ini disampaikan kepada Wakil Wali Kota Singkawang, Irwan yang hadir langsung di lokasi bersama pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).

Sempat terjadi bersitegang antara warga dengan pihak Pemkot Singkawang. Namun mereda dan pembongkaran dinyatakan batal. Sejak itu, warga berinisiatif untuk memperbaiki gerbang melalui pengecatan.

Siapa Pengelola Videotron

Upaya pembongkaran tersebut erat kaitannya dengan kehadiran gapura selamat datang yang baru berdiri beberapa bulan lalu. Lokasinya hanya sekitar 20 meteran. Gapura baru lengkap dengan videotron yang pengelolaannya oleh pihak ketiga.

Dari sisi estetika, gapura baru itu tidak memenuhi syarat lantaran tertutup oleh gapura terdahulu. Selain itu akan berpengaruh pada konsentrasi pengguna jalan atau pengendara dari efek cahaya yang muncul, terutama di malam hari. Soal perizinannya, menjadi pertanyaan banyak warga terkait Perda Kota Singkawang Nomor 1 tahun 2106 dan perizinan lainnya terkait reklame.

Bahkan belakangan ini, warga mempertanyakan ornamen yang menyerupai lambang ‘keberuntungan’ yang letaknya di bagian atas gapura.

Posisinya berada di atas lambang Pemprov Kalbar, lambang Pemkot Singkawang, simbol kerajaan Sambas dan lambang etnik lainnya.

EM Abdurrahman, aktivis sekaligus kader Partai Golkar Singkawang dalam status media sosialnya menjelaskan gerbang yang lama sangat bagus. Terkesan unik dan memiliki nilai tradisional. Gerbang yang juga bagus dan tampak modern. Hanya saja, ada semacam simbol pada gerbang baru yang tidak tahu simbol apa.

Sedangkan gapura terdahulu erat kaitannya dengan properti historis sejarah Kota Singkawang yang pada tahun 1959 hanya sebuah kecamatan bagian dari Kabupaten Sambas.

Kemudian pada 1981 menjadi kota administratif dan menjadi ibukota Kabupaten Sambas. Sampai akhirnya keluar UU Nomor 12 Tahun 2001 yang menyatakan terbentuknya Pemkot Singkawang. Pada 17 Oktober 2001 selanjutnya Mendagri meresmikan kehadiran Pemkot Singkawang.

Menurut Hana, telah terjadi benturan antara keberadaan benda historis dengan beberapa kebijakan berdalih pembangunan. Bukan hanya gapura yang menjadi sorotan, tetapi juga soal pembangunan kota pusaka, taman gayung bersambut, mesjid agung, sekolah yang dibangun dengan dana PEN, dan pasar beringin.

Penulis : R. Rido Ibnu Syahrie

Share :

Baca Juga

HUT Bhayangkara ke 76

Historia

Asal Mula Polri Gunakan Kata Bhayangkara
Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Amirsyah mengajak muslim bersatu bangun Masjid Nasional Perbatasan

Historia

Ajak Muslim Bersatu Bangun Masjid 1001 Kubah
pontianak-times.co.id

Historia

3 Kandidat Ketua PWNU Kalbar Minta Restu
Titilah Pekerja Migran di Taiwan

Historia

Tilah, Pekerja Migran Inspiratif di Taiwan
swafoto dengan latar mural

Historia

Ada Apa di Gang Gajahmada 9 Pontianak
Adrianus Asia Sidot

Historia

Adrianus Ajak Lestarikan Sampan Bedar
Loggo Muhammadiyah

Historia

Maklumat Muhammadiyah Iduladha 9 Juli 2022
Kerabat Istana Amantubillah

Historia

Halal Bi Halal Amantubillah Segera Digelar
error: Content is protected !!