Home / Historia

Selasa, 22 Juni 2021 - 23:11 WIB

Tancap Tiang Bagan, Kearifan Lokal Warga Pulau Kabung

Aktivitas menancapkan tiang Bagan di perairan Pulau Kabung, Bengkayang, Kalimantan Barat. (foto: pontianak-times.co.id)

Aktivitas menancapkan tiang Bagan di perairan Pulau Kabung, Bengkayang, Kalimantan Barat. (foto: pontianak-times.co.id)

Bengkayang. Sejarah serangan wabah Malaria membuat para penghuni yang datang banyak meninggal dunia. Kondisi ini cukup lama berlangsung. Banyak yang memilih eksodus ke tempat lain dan membuat pulau Kabung sepi tak berpenghuni dalam waktu yang cukup lama. Setelah beberapa tahun kemudian, datang dan bermalamlah sekeluarga orang Bugis bernama Bacok di pulau tersebut.

Penuturan Pardi, anak kandung Bacok menjelaskan sekitar tahun 1958 ayahnya menggarap lahan dan laut untuk menjadikannya sebagai mata pencaharian utama. Bacok kemudian membawa keluarga dan sahabat dekatnya untuk tinggal menetap di Pulau Kabung.

Hingga akhirnya warga Bugis hidup turun temurun di pulau tersebut. Pulau Kabung masuk dalam wilayah Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Bengkayang. Letak pulaunya berdekatan dengan Pulau Lemukutan dan Pulau Randayan.

Mata pencaharian utama warganya adalah menangkap ikan teri dengan alat tangkap yang disebut bagan. Bagan terbuat dari kayu nibung yang ditancapkan di tengah laut. Kayu berfungsi sebagai penggantung dan pembuka jaring ikan.  

Baca juga:  Asfan, Nelayan Mempawah Menghilang

Pada bagian atas jaring diberi alat pelampung dan bagian sebelah bawah diikat dengan pemberat. Sedangkan bagian bawah dilengkapi tali penarik. Bagan merupakan jenis alat tangkap ikan yang ramah lingkungan, sudah diperkenalkan pertama kali oleh nelayan Bugis.

Untuk mendapatkan kayu nibung, Pardi membelinya dari Paloh Sambas. Modal keseluruhan menghabiskan Rp35 juta-an. Itu sudah termasuk untuk membeli jaring, perahu, lampu dan ongkos pembuatan bagan sampai siap dioperasikan.

Soal hasil tangkap ikan menggunakan Bagan, nelayan Pulau Kabung dalam sekali tangkap ikan teri jika musimnya semalam minimal mendapatkan 12 keranjang. “Bahkan ada yang sampai 20 keranjang, setara dengan harga kurang lebih Rp11 juta sampai Rp20 juta,” tambah Abdurrahman, rekan Pardi sesama nelayan.

Keunikan dalam pembuatan Bagan ini, terdapat budaya yang masih dipertahankan warga melalui gotong royong dan saling membantu antar warga. Solidaritas antar kelompok dan suku sangat tinggi. Pola kerja yang disebut be la le’ telah menjadi kearifan lokal bagi Melayu di pulau Kabung. Jika ada warga yang akan menancapkan tiang bagan, maka seluruh warga pada malam hari sebelumnya beristirahat dan tidak menangkap ikan.

Baca juga:  Warga Banten Ajak Pererat Silaturahmi

Ini dilakukan warga lantaran besoknya akan ada pekerjaan membantu warga yang hendak membangun bagan. Biasanya dalam waktu setengah hari bergotong royong, berhasil menancapkan 20 tiang bagan. Tradisi be la le’ ini hingga sekarang masih tetap lestari. Demikian juga kegiatan sosial lainnya seperti ketika ada warga yang meninggal dunia, acara selamatan dan pernikahan. Polanya sama dengan kegiatan menancapkan tiang bagan.

Yang sedikit berbeda, dalam hal kematian. “Jika ada warga Kabung meninggal dunia, jenazah diantar atau dikuburkan di daerah asalnya. Kecuali yang tidak memiliki keluarga. Jadi, di Pulau Kabung kuburan relatif sepi,” kata Sela, ibu rumahtangga di Pulau Kabung. Bahkan, di RT Selatan tidak ada tempat pemakaman atau kuburan. Semua pemakaman dipusatkan di RT Timur.

Penulis : Dr. H.Munawar, M.Si

Editor   : R. Rido Ibnu Syahrie

Share :

Baca Juga

Pertemuan Ba Haupm Bide Bahana TBBR

Historia

Dayak Kalbar Kompak Hadir Temu Akbar
Masjid Bir Ali

Historia

Panitia Haji Keluarkan Imbauan dan Larangan
Kapal Sari Borneo

Historia

Kapal Inggris Tenggelam di Sungai Sebatok
pontianak-times.co.id

Historia

Alasan Mengapa Ibukota Baru Nusantara
pontianak-times.co.id

Historia

Konflik Gapura Kembar Kota Singkawang
Launcing Corak Melayu dan Dayak Salako

Historia

Tombak Raje dan Kearifan Lokal Dayak Salako
pontianak-times.co.id

Historia

Tokoh Singkawang Bicara Konflik Gerbang
Paguyuban Banten

Historia

Warga Banten Ajak Pererat Silaturahmi
error: Content is protected !!