Home / Historia

Rabu, 16 Juni 2021 - 10:57 WIB

Saksi Sejarah Transformasi Media

Gunung Poteng di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. foto: rido

Gunung Poteng di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. foto: rido

Tahun 1998 begitu melekat dalam bayangan kita tentang pergerakan dan pergolakan sosial di negeri ini. Pada tahun itulah kerap disebut titik nol reformasi, sebuah masa transisi dari orde baru. Kekuasaan Presiden Soeharto kemudian berakhir, seiring pengunduran dirinya dari jabatan selaku mandataris MPR pada 21 Mei 1998 dan digantikan oleh wakil presiden saat itu, BJ Habibie.

Peralihan kekuasaan itu erat kaitannya dengan dinamika masyarakat secara umum mulai dari barisan grassroot, kalangan menengah, pengusaha, aparat hingga kaum intelektual. Semuanya sudah bersepakat melakukan perubahan. Termasuklah unsur pers meskipun dalam kondisi terbelenggu dibawah traumatis yang lazim disebut pembredelan.

Era reformasi kala itu terus bergaung dan media massa mulai menikmati masa kebebasan pers yang ditandai dengan lahirnya UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 yang ditandatangani langsung BJ. Habibie. Akhirnya bebas dari cengkeraman penguasa dan aturan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) dicabut. Regulasi lain yang dicabut adalah UU Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers dan UU Nomor 4 PNPS Tahun 1963.

Kebebasan kehidupan pers yang tetap dalam koridor dan rambu-rambu itu membuat perusahaan pers bermunculan mengelola media cetak, televisi, maupun radio. Terkait pers tanpa pengekangan inilah, menjadi salahsatu ciri demokrasi ideal. Publik melalui pers dapat mengetahui berbagai informasi, termasuk kinerja pemerintah karena didalamnya terdapat check and balance, dan kontrol kekuasaan.

Eksekutif seperti halnya legislatif dan yudikatif dalam bingkai trias politica setidaknya tidak bisa berjalan seenaknya saja dalam menjalankan roda negeri ini. Sebab masih ada corong publik dan watchdog melalui pers ditambah dengan gerakan civil society.

Bagi mereka yang menjadi demonstran di tahun 1998 tentu saja merasakan perubahan tersebut, termasuk kami yang sejak saat itu banyak berkiprah di bidang pers, dengan cara bekerja sebagai wartawan di tabloid, majalah hingga koran harian.

Masa terus berganti. Generasi baby boomers sudah mulai luruh dan digantikan generasi X yang ‘mantan demonstran’. Selanjutnya muncul generasi Y, biasa disebut kaum milenial yang masih bisa menikmati bacaan koran cetak dan sesekali melihat berita di internet. Koran waktu berjaya, mulai dari perusahaan pers berskala nasional dan lokal hingga koran lokal yang berjaringan seluruh Indonesia. Kamilah yang turut menjadi bagian dan berperan disitu.

Sampai akhirnya kejayaan media massa cetak itu perlahan sirna, bersamaan dengan kreativitas generasi Z yang lahir dalam rentang waktu tahun 2001 sampai 2010. Paltform media sosial merangsek dahsyat. Koran-koran kelimpungan, seperti halnya beberapa media elektronik. Disusul teknologi digital yang berkembang pesat. Kondisi ini yang membuat perusahaan pers banyak gulung tikar dan akhirnya‘banting setir’ ke media siber alias portal online.

Pembaca yang budiman.. dari sedikit ulasan ringkas tersebut, ingin kami sampaikan bahwa kehadiran portal pontianak-times.co.id merupakan titisan dari periodisasi yang kami alami. Rata-rata dari kami pernah bekerja sebelumnya di perusahaan raksasa media cetak berjaringan.

Kemudian ada yang membuat sendiri koran lokal, seperti halnya harian pontianak times dengan badan hukum Perseroan Terbatas (PT) yang kemudian beralih ke platfom digital dengan situs pontianak-times.com di tahun 2014. Saat mencapai viewer 2,4 juta lebih versi Alexa Rank dalam kurun waktu setahun sempat stagnan.

Pada tahun 2021 ini, brand tersebut kami tumbuhkan lagi dengan merintis pontianak-times.co.id. Kami berusaha meneruskan tradisi budaya literasi, penyampaian informasi, serta menjalankan fungsi pers yang bebas dan bertanggungjawab. Setidaknya, kami telah menjadi pelaku dan saksi sejarah terjadinya transformasi media. Kami adalah bagian terkecil dari arus informasi global dan denyut nadi pers di tanah air tercinta, Indonesia.

Salam dan jabat erat kami

Share :

Baca Juga

Sungai Sambas

Historia

Sungai Sambas Denyut Budaya dan Wisata
Mabes Polri

Historia

1 Juli 1969 KKN Berganti Menjadi Kapolri
Aktivitas menancapkan tiang Bagan di perairan Pulau Kabung, Bengkayang, Kalimantan Barat. (foto: pontianak-times.co.id)

Historia

Tancap Tiang Bagan, Kearifan Lokal Warga Pulau Kabung
Akhmad Fauzin

Historia

Pemberangkatan Jemaah Haji Hingga 3 Juli
Lambang Polri Tribrata

Historia

Polri Pernah Menjadi Bagian Kemendagri
Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie saat ekspos rumah adat tionghoa

Historia

Lahan Belum Beres, TCM Undang Pengusaha
Raja Amantubillah Mempawah

Historia

Sandiaga Hadir di Toana Raja Mempawah
Ziarah 14 Makam Sultan Sambas

Historia

Hari Jadi 392, Ziarah 14 Makam Sultan Sambas
error: Content is protected !!