Home / Sport

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:26 WIB

Mengenang Elang Khatulistiwa Squad Persipon Generasi 80-an

Tim Persipon (1984). Atas kiri – Yahya Busrah, Muslihudin, Koko Sunarto, Octavianus, Wan Anwari, Rustamansyah, Prabasa Anantatur, Adiwarna. Jogkok kiri – Natan Andreas, Wiilson, Yopi Rahupati, Mustamsil Idris, Eka Dharma, Arifin, Mariso. (foto: Repro jerseypersipon)

Tim Persipon (1984). Atas kiri – Yahya Busrah, Muslihudin, Koko Sunarto, Octavianus, Wan Anwari, Rustamansyah, Prabasa Anantatur, Adiwarna. Jogkok kiri – Natan Andreas, Wiilson, Yopi Rahupati, Mustamsil Idris, Eka Dharma, Arifin, Mariso. (foto: Repro jerseypersipon)

PONTIANAK – Di sebuah sudut Stadion Sultan Syarif Abdurrahman, Pontianak, ada kenangan yang masih hidup dalam ingatan para pencinta sepak bola Kalimantan Barat. Squad Persipon..!

Riuh penonton, debu lapangan yang beterbangan, bunyi peluit panjang wasit, dan para pemain berbaju hijau yang berlari mengejar bola menjadi bagian dari perjalanan panjang Persatuan Sepak Bola Indonesia Pontianak atau Persipon.

Lebih dari sekadar klub, Persipon telah menjadi bagian dari sejarah sosial dan budaya Kota Pontianak selama lebih dari setengah abad. Persipon lahir pada 1970, di tengah semangat pembangunan olahraga nasional yang sedang berkembang.

Saat itu, sepak bola Indonesia masih berada dalam sistem Perserikatan, kompetisi yang mempertemukan tim-tim dari berbagai daerah sebagai representasi identitas masyarakatnya. Jika Bandung memiliki Persib, Medan mempunyai PSMS, dan Jakarta dibela Persija, maka Pontianak memiliki Persipon sebagai lambang kebanggaan kota.

Pada masa itu, sepak bola belum menjadi industri seperti sekarang. Para pemain bukan atlet profesional yang hidup dari kontrak bernilai miliaran rupiah. Mereka adalah pegawai negeri, pelajar, mahasiswa, anggota TNI dan Polri.

Bahkan pedagang hingga karyawan perusahaan yang berlatih pada sore hari setelah menyelesaikan pekerjaan utama. Mereka bermain bukan semata-mata demi penghasilan, melainkan untuk mengangkat nama daerah.

Perjalanan Persipon pada dekade 1970-an menjadi fondasi pembentukan tradisi sepak bola Kota Pontianak. Klub ini rutin mengikuti kompetisi yang diselenggarakan PSSI dan berbagai turnamen regional di Kalimantan. Perlahan tetapi pasti, Persipon mulai dikenal sebagai salah satu kekuatan sepak bola Kalimantan Barat.

Generasi Terbaik

Memasuki dekade 1980-an, Persipon mencapai salah satu periode yang hingga kini masih dikenang para pecinta sepak bola daerah. Salah satu dokumentasi sejarah menunjukkan bahwa pada 1984, Persipon memiliki skuad yang dianggap sebagai salah satu generasi terbaik sepanjang sejarah klub.

Tim tersebut mewakili Kalimantan Barat dalam Kejuaraan KNPI dan mengikuti berbagai ajang kompetisi nasional. Mereka menjadi saksi sebuah era ketika sepak bola daerah hidup dari semangat kebersamaan.

Nama-nama seperti Yahya Busrah, Muslihuddin, Koko Sunarko, Oktavianus, Prabasa Anantatur, Wan Anwari, Rustamansyah, Natan Andreas, Yopi Ruhupati, Eka Dharma, Mariso, dan rekan-rekan mereka menjadi bagian dari sejarah sepak bola Pontianak.

Baca juga:  Atlet Selam Ketapang Raih Juara II Porprov

“Saat saya memperkuat Persipon, diletakkan pada posisi back kiri,” ujar Ir H Prabasa Anantatur MH, yang kini menjalankan amanah sebagai Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimatan Barat.

Prabasa, dikenal rekan-rekannya satu generasi dengan sapaan Base. Ia juga aktif di Klub Sepakbola Metra’83 kala itu dipercaya sebagai sweeper. Ia menjadi pemain bertahan yang beroperasi tepat di belakang garis pertahanan utama.

Prabasa juga pernah menjajal bermain di lini tengah sebagai bek. Ia dipercaya menjaga area pertahanan depan penjaga gawang dan bertugas mematahkan serangan lawan sebelum masuk ke kotak penalti.

Berkisah tentang Persipon. Prabasa mengenang generasi pesepakbola 80-an itu tumbuh dalam situasi yang jauh dari kemewahan. Fasilitas latihan terbatas, perjalanan menuju pertandingan sering ditempuh dengan transportasi sederhana, bahkan biaya operasional tim kerap menjadi persoalan.

“Namun keterbatasan tersebut justru melahirkan semangat juang yang kuat. Mengenakan seragam Persipon merupakan kebanggaan tersendiri bagi para pemain,” ujar Prabasa yang juga politisi senir Kalimantan Barat ini.

Tahun 1984 juga menjadi periode penting bagi Persipon dalam kompetisi Perserikatan. Klub ini tercatat mengikuti Divisi I PSSI dan bersaing dengan sejumlah tim dari berbagai daerah di Indonesia. Bagi sepak bola Kalimantan Barat, keberhasilan tampil di level nasional merupakan pencapaian yang membanggakan sekaligus membuktikan bahwa daerah ini memiliki potensi besar dalam pembinaan atlet.

Selama era Perserikatan, Stadion Sultan Syarif Abdurrahman menjadi rumah bagi Persipon. Stadion yang terletak di jantung Kota Pontianak itu bukan sekadar arena pertandingan. Di tempat itulah masyarakat dari berbagai latar belakang berkumpul untuk mendukung tim kebanggaan mereka. Pertandingan Persipon sering menjadi hiburan rakyat yang mampu menyatukan berbagai kalangan masyarakat.

Liga Indonesia

Perubahan besar terjadi pada 1994 ketika PSSI menggabungkan kompetisi Perserikatan dan Galatama menjadi Liga Indonesia. Sistem baru ini menuntut klub-klub untuk lebih profesional dalam pengelolaan organisasi dan pembiayaan. Persipon harus beradaptasi dengan perubahan tersebut di tengah berbagai keterbatasan yang dimiliki klub daerah.

Masa transisi tidak berjalan mudah. Persipon menghadapi tantangan finansial, perubahan regulasi, dan semakin ketatnya persaingan antar klub. Namun klub ini tetap bertahan dan terus berupaya membangun kekuatan melalui pembinaan pemain lokal.

Baca juga:  Saksi Sejarah Transformasi Media

Kerja keras itu mulai menunjukkan hasil pada dekade 2000-an. Persipon kembali bangkit dan berhasil menorehkan sejumlah prestasi yang membanggakan. Klub ini mampu bersaing di tingkat nasional, meraih hasil positif dalam berbagai kompetisi, hingga akhirnya menembus Divisi Utama dan kemudian Liga 2, kasta kedua sepak bola Indonesia.

Keberhasilan tampil di Liga 2 menjadi salah satu pencapaian terbesar dalam sejarah modern Persipon. Klub asal Kota Pontianak ini mampu bersaing dengan tim-tim yang memiliki tradisi dan dukungan finansial lebih besar.

Pada periode tersebut, Persipon juga diperkuat sejumlah pemain berpengalaman, termasuk mantan penyerang tim nasional Indonesia, Kurniawan Dwi Yulianto, yang sempat mengakhiri perjalanan karier profesionalnya bersama klub ini.

Namun perjalanan sebuah klub sepak bola tidak pernah berjalan lurus. Persipon juga menghadapi masa-masa sulit. Dualisme kompetisi sepak bola nasional, persoalan pembiayaan, serta dampak pandemi Covid-19 membuat klub mengalami penurunan prestasi. Persipon harus turun kasta dan kembali memulai perjuangan dari level yang lebih rendah.

Simbol Identitas

Kini Persipon berkompetisi di Liga 4. Status tersebut mungkin jauh dari kejayaan masa lalu, tetapi tidak menghapus sejarah panjang yang telah dibangun selama puluhan tahun. Bagi masyarakat Pontianak, Persipon tetap menjadi simbol identitas daerah dan bagian dari perjalanan sejarah kota.

Upaya membangkitkan Persipon terus dilakukan. Pemerintah daerah, Asosiasi Kota PSSI Pontianak, mantan pemain, komunitas suporter, dan masyarakat pecinta sepak bola berharap klub kebanggaan mereka dapat kembali bersaing di tingkat nasional. Pembinaan usia muda mulai diperkuat dengan harapan lahir generasi baru yang mampu mengembalikan kejayaan Persipon.

Sejarah Persipon sesungguhnya bukan hanya kisah tentang menang dan kalah di lapangan hijau. Lebih dari itu, sejarah Persipon adalah cerita tentang semangat masyarakat Pontianak menjaga identitas daerah melalui olahraga.

Dari generasi pemain era Perserikatan yang berlatih di lapangan sederhana hingga para pemain muda yang kini bermimpi mengenakan seragam hijau Persipon, semuanya menjadi bagian dari mata rantai sejarah yang tidak terputus.

Penulis: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times

Share :

Baca Juga

Pertandingan Arema vs Persebaya

Sport

Catatan Kritis Tragedi Kanjuruhan
De Ligt Tertunduk lesu, setelah mendapatkan kartu merah. (foto: screenshoot tayangan olaTv)

Sport

Kena Kutukan, Belanda Kalah Telak
Pepapernas Palembang

Sport

Atlet Pelajar Disabilitas Kalbar Raih Prestasi di Peparpenas 2023
Pertandingan Final Bola Voli antara Indonesia melawan Thailand dalam SEA Games 2025, Jumat (19/12/2025) malam. (Foto yt RTCI Sports)

Sport

Tim Voli Putra Raih Posisi Dua SEA Games 2025
Pembukaan PB Sultan Cup Open 2023

Sport

Kejuaraan Bulutangkis PB Sultan Cup Dimulai
Selebrasi Timnas Inggris usai memenangkan pertandingan melawan Denmark dengan skor 2-1 di Stadion Wembley, London, Kamis (8/7/2021). Foto: uefa.com

Sport

Nasib Apes Denmark Akibat Gol Bunuh Diri
Waibi Sarawak

Sport

Waibi Sarawak Serahkan Piala Sampan Bedar
Bupati Ketapang, Alexander Wilyo foto bersama para pesilat pada cara penutupan Jambore Pencak Silat Bupati Cup.

Sport

Jambore Pencak Silat Bupati Cup 2025 Ketapang Berakhir
error: Content is protected !!