Pontianak – Teka-teki siapa pengganti Maman Abdurrahman yang bakal menakhodai Partai Golkar Kalbar, mulai terkuak.
Dinamika internal partai berlambang pohon beringin menjelang Musda XI, Sabtu (7/3/2026) di Golden Tulip, tak lagi samar. Partai Golkar yang mengkader banyak figur, saat ini telah mengerucut. Menyisakan dua figur saja, Prabasa Anantatur dan Ichfany.
Di hari pendaftaran bakal calon ketua, Jumat (6/3/2026) di Sekretariat DPD Golkar Provinsi Kalimantan Barat Jalan Ahmad Yani Pontianak, hanya Ichfany yang mendaftar. Ichfany merupakan sosok muda milenial yang saat ini menempati posisi bendahara.
Sedangkan Prabasa Anantatur yang telah dua periode menjadi Sekretaris DPD, termasuk mendampingi Maman Abdurrahman, memilih untuk tidak mendaftar. Kondisi suksesi di internal Golkar Kalbar menyiratkan pola pertarungan atau kompetisi yang mengarah pada kolaborasi.
Prabasa yang layak dijuluki arstitek Golkar Kalbar ini tak perlu diragukan lagi kiprahnya dalam membesarkan Golkar. Karir birokrasi sebelum di jalur legislatif, malah telah dijajalnya dan pernah menjadi Wakil Bupati Sambas.
Bagi Prabasa, suksesi di tubuh DPD Golkar Kalbar dilaksanakan dengan riang gembira dan penuh rasa syukur. “Golkar Kalbar memerlukan transformasi kader. Saatnya yang muda yang memimpin,” ujar Prabasa yang juga Ketua Ormas MKGR Provinsi Kalbar ini.
Tumbang
Patut diakui, figur yang berhasrat untuk menjadi Ketua DPD Golkar Provinsi Kalbar memang cukup banyak. Namun tak sedikit yang tumbang lantaran syarat dukungan minimal 30 persen dari DPD Kabupaten/Kota. Belum lagi perlunya dukungan Ormas Hasta Karya dan Sayap Partai.
Kendala yang paling signifikan adalah soal kemampuan untuk menembus sekat ‘restu’ DPP. Restu DPP sejak Golkar dalam kendali Bahlil Lahadalia, mengalami perubahan yang sangat ekstrim. Bukan hanya soal pentingnya estafet kepemimpinan dan kaderisasi yang dibalut loyalitas. Tetapi lebih menekankan pada kepatuhan kader terhadap hirarki pusat dan daerah untuk memelihara soliditas dan gerak serempak partai.
Bahlil terbaca menempatkan kadernya di daerah dari kalangan kader-kader baru. Maka tak heran, kader yang masuk kategori ‘gerbong lama’ tidak terlalu banyak diberikan peran atau bahkan tersingkir.
Alasan logis lainnya adalah tren kepemimpinan yang linear dengan perkembangan zaman di era disrupsi informasi. Pengendalinya tentu saja banyak dari kalangan generasi muda atau Milenial dan Gen Z.
Dominasi Milenial
Data Pemilih 2024 menyebutkan milenial dan Gen Z cukup mendominasi, mencapai 55-56% atau lebih dari 113-114 juta suara dari total 204,8 juta Daftar Pemilih Tetap (DPT). Secara spesifik, pemilih milenial atau generasi yag lahir 1980-1994 berjumlah sekitar 66,8 juta, sementara Gen Z sekitar 46,8 juta.
Pada Pemilu 2024, Golkar telah mendapatkan masa keemasan siklus 20 tahunan, tepatnya di 2004. Golkar di masa tersebut mendapat suara mayoritas dengan perolahan kursi DPR RI 128 kursi dari total 550 kursi. Jika dikalkulasikan saat ini dengan Parliamentary Threshold, maka mencapai 22,44 persen.
Pada 2024, partai ini meraih kenaikan 6 juta suara dan menempati posisi kedua nasional dengan perolehan 23.208.654 suara atau sekitar 15,28% – 15,29% dari total suara sah nasional. Keberhasilan tersebut tentu saja hasil kerja serentak semua daerah di era kepemimpinan Golkar dipegang oleh Airlangga Hartarto.
Kini, masa Airlangga telah selesai. Gerbongnya juga berakhir. Kalaupun masih ada, itu yang bertransformasi dan memilih tunduk.
Dinamika politik di tubuh Golkar memang cukup tinggi, seolah tak lekang oleh waktu dan tidak terfokus pada figur. Buktinya, banyak yang tersingkir secara personal. Kemudian menjadi akademia dan mendirikan Parpol lain. Golkar ibarat ‘kawah candradimuka’ para politisi dan Golkar tak tergerus.
Di Kalbar, kisah sukses perolehan total Kursi DPRD se-Kalbar telah terukir manis. Perolehan mengalami peningkatan dari 64 kursi di 14 kabupaten/kota pada Pemilu 2019 menjadi 74 kursi pada Pemilu 2024. Demikian pula kursi DPRD Provinsi naik dari 8 kursi menjadi 9 kursi.
Bagi Kalimantan Barat, catatan sukses itu tidak hanya menjadi cerita. Pilihannya hanya dua saja, dipertaankan atau meningkat. Tentu saja menjadi kerja kolaboratif DPD Golkar Kalbar di bawah kepemimpinan Ichfany nantinya.
Amanah
Selamat datang anak muda. Semoga sukses memegang amanah. Usia bukan ukuran kedewasaan. Lihat saja Muhammad Al-Fatih yang berhasil menaklukkan Konstantinopel pada usia 21 tahun pada 29 Mei 1453. Al-Fatih mampu menembus pertahanan kota yang telah berdiri selama lebih dari seribu tahun tersebut. Kekaisaran Bizantium pun berakhir.
Ichfany memang bukan Al-Fatih. Namun etos kerja dan semangat Al-Fatih bisa saja diikuti, tanpa harus jaga imej (jaim). Semoga momentum Musda XI yang bertepata dengan 17 Ramadan ini menjadi titik awal yang baik. Ingat, konstituen termasuk masyarakat menanti karya nyata. Opus Operis…! Selamat Musda XI Partai Golkar Kalbar.
Penulis: R. Rido Ibu Syahrie I Update Berita, ikuti Google News


















