Home / Peristiwa

Minggu, 22 Mei 2022 - 23:26 WIB

Tjhai Chui Mie Mencoreng Rekor MURI Sicita

Flier Sicita yang dibuat menggunakan loggo Pemkot Singkawang dan surat edaran walikota.

Flier Sicita yang dibuat menggunakan loggo Pemkot Singkawang dan surat edaran walikota.

Singkawang. Pelaksanaan Senam Indonesia Cinta Tanah Air (SICITA) di Stadion Kridasana Singkawang, Jumat (20/5/2022) menuai polemik. Peserta yang seharusnya hanya terbatas pada kalangan pengurus, kader dan simpatisan PDI Perjuangan, kenyataanya melibatkan ASN, TNI/Polri dan pelajar.

Walikota Singkawang, Tjhai Chui Mie (TCM) yang notabene sebagai kader PDI Perjuangan kurang cerdas dalam menerjemahkan instruksi dari DPP PDI Perjuangan berkenaan dengan kegiatan tersebut. Sebab, SICITA merupakan brand PDI Perjuangan bersamaan dengan HUT ke 49 PDI Perjuangan, dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional untuk memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) secara hybrid.

Kesalahan fatal diawali dari dikeluarkannya undangan kepada 43 institusi melalui surat bernomor: 005/1115/DISDIKBUD.SET-A. Dalam surat tersebut TCM menentukan peserta yang harus hadir masing-masing 25 orang untuk Organisasi Perangkat Daerah/Badan, TNI dan Polri beserta staf minimal 50 orang. Sedangkan para camat beserta staf minimal 20 orang, dan unsur kelurahan minimal 10 orang.

Minimal 50 orang lainnya masing-masing untuk seluruh Kepala SLB, ULD, PAUD/RA beserta guru, seluruh Kepala SD/MI dan guru beserta murid kelas III hingga V, seluruh Kepala SMP/MTs dan guru beserta siswa Kelas VII dan VIII, seluruh Kepala SMA/MA-SMK dan guru beserta siswa Kelas X dan XI, seluruh   pimpinan perguruan tinggi/akademi beserta mahasiswa. Sisanya, minimal 20 orang untuk seluruh  pimpinan organisasi sosial beserta anggota.

TCM melalui surat dengan leading sector Disdikbud Singkawang ini mewajibkan penggunaan atribut peserta senam berupa pakaian olahraga bermotif merah-putih, membawa bendera atau pita merah putih dari bahan kertas atau plastik. Kewajiban lainnya, membawa konsumsi secukupnya.

Susi Wu, Anggota DPRD Kota Singkawang langsung bereaksi keras melalui cuitannya di akun medsos FB miliknya pada, Sabtu (20/5/2022) berjudul ‘Jeritan Hati dari Pinggiran’ Jika tak mampu membuat rakyat sejahtera, jangan membuat mereka semakin susah.

Susi Wu membuat status dialog seorang ibu dan anaknya yang sekolah untuk diwajibkan mengikuti senam. “Tiba2 anak pulang sekolah memberi kabar yg mengejutkan.. Mak.. belikan baju merah celana putih besok sekolah wajibkan ikut senam walikota… Aduu nak.. uang dari mana buat beli apalagi dipakai cuma buat senam sesaat, beras di dapur aja sudah habis lho.. Belum lagi uang sekolah kalian juga sudah nunggak 2 bulan blm ada uang utk  membayarnya…”

Susi Wu juga mengkritik walikota yang tidak ada habis-habisnya membuat susah warga yang sudah susah. “Inilah cerita yang saya dapat di pinggiran kota. Rintihan warga kecil yang tak berdaya. Belum lagi yang anaknya 3 atau 5 yang sekolah dan disuruh ikut senam si Merah,” ujar Susi Wu.

Akun lainnya, Sui Ha menjelaskan sebetulnya cukup menggunakan pakaian senam yang dipakai sekolah saja. “warna-warni kan nggak apa-apa, menunjukkan bhineka tunggal ika,” ujarnya.    

Kritikan wakil rakyat yang dikenal rajin turun lapangan mendatangi kalangan rakyat kecil ini sangat beralasan, lantaran undangan walikota sangat memberatkan. Bahkan siswa SMP yang harus mengikuti ujian di hari itu, terpaksa diundur.

Pernyataan Susi Wu mendapat banyak dukungan dari kalangan netizen. “Bu dewan, ini kegiatan walikota atau kegiatan partai? Kasian keluarga yang tidak mampu jika harus mengikuti dan membeli pakaian,” ujar akun Kendyanto merespon status Susi Wu.

Terkait protes diundurnya jadwal ujian, datang dari salah seorang anggota Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Singkawang. “Ujian sekolah merupakan representasi kebijakan pendidikan yang akuntable dalam rangka penilaian selama 3 tahun di jenjang SMP, sangat aneh jadwalnya bisa ditunda,” ujar anggota PGRI yang enggan disebutkan namanya.

Pernyataan Cerdas

Netizen dengan akun Heldy Santoso Xavixavieri memberikan kontribusi pemikiran yang sangat brilian ketika menyambut cuitan Susi Wu. Heldy memberi judul komentarnya  “Pro dan Kontra Senam Sicita di Kridasana”

Berikut ini tulisan utuh Heldy:

Kalau acara senam memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang targetnya mencapai 35.000 massa ini, tidak diklaim oleh salah satu parpol dalam akun medsosnya (meskipun akhirnya diedit kembali menghilangkan kata parpolnya) setelah mulai viral captionnya), karena kata Senam “SICITA” merupakan gagasan ketua umumnya, pasti tidak akan timbul pertanyaan/polemik sebagian masyarakat kota singkawang tentang tujuan sebenarnya acara tersebut. Termasuk membuat sebagian orang curiga apakah ini kegiatan resmi pemkot (diposter ada logo pemkot dinas pendidikan dan kebudayaan) ataukah kegiatan partai.Termasuk Dana dalam acara ini sumbernya dari mana?

Akibat caption medsos yg sudah viral dari salah satu parpol yang KLAIM merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh parpolnya, ini yang menjadi polemik. Karena peserta diundang bahkan melibatkan Murid SD/SMP, ASN, Polri dan TNI..seperti kita ketahui, Instansi2 ini menurut aturan tidak boleh terlibat dalam kegiatan politik.

Kalau dari awal kegiatan tgl 20 Mei kemarin dikasih judul misalkan Senam Singkawang Hebat atau judul lainnya yang tidak “kebetulan” seperti yg digagas oleh salah satu parpol di Indonesia (SICITA), ditambah soal dress code buat siswa atau instansi yg diundang memakai seragam olahraganya masing2 (seragam olahraga menunjukan wakil dari sekolah/instansi masing2) , mungkin lebih mantap lagi, karena sesuai dengan slogan BHINNEKA TUNGGAL IKA, pasti tidak akan timbul polemik/pertanyaan dari sebagian masy atas acara senam tersebut.

Mungkin kejadian ini bisa dijadikan pelajaran bagi para pemimpin kota Singkawang di kemudian hari agar tidak terulang kembali, sehingga acara yang harusnya bisa dibanggakan justru menjadi polemik di masyarakat. Termasuk mencegah sebagian Masyarakat agar tidak SUUDZON ada sekelompok orang sedang “curi start kampanye”

Mohon maaf kalau ada kalimat yang salah. Hanya mengemukakan saran , kritik dan pendapat karena UU negara kita mengatur setiap WNI berhak mengemukakan pendapat asal tidak HOAX dan melanggar UU ITE.

Daring dan Luring

Seperti diketahui PDI Perjuangan memecahkan rekor MURI dengan peserta terbanyak dalam Sicita Tahun 2022. Pelaksanaan senam ini digelar secara daring dan luring, Jumat (20/5/2022). Secara luring, Sicita dipusatkan di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, diikuti sejumlah daerah secara bersamaan.

Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan sejumlah kader Partai Banteng mengikuti senam di Lapangan Banteng, Jumat. “Pada kesempatan ini, saya menyampaikan salam Ketum Ibu Megawati Soekarnoputri yang mengikuti secara daring dan seluruh tim yang menggerakkan olah raga dan olah jiwa. Hasil uji laboratorium, 1.000 kalori setidaknya sudah kita bakar,” kata Hasto dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (20/5/2022).

Editor : R. Rido Ibnu Syahrie

Share :

Baca Juga

Pawai siswa SMK

Peristiwa

40 Siswa Diamankan Polsek Sungai Pinyuh
Nenek Meninggal Terbakar Api

Peristiwa

Tragis, Nenek Meninggal Terpanggang Api
Iwan Keluarga Kobran SJ-182

Peristiwa

Sriwijaya Mangkir Bayar Korban SJ-182
Unjuk Rasa Penplakan BBM naik

Peristiwa

Unjuk Rasa Tolak BBM Naik Semakin Masif
pontianak-times.co.id

Peristiwa

Fery Pimpin Ziarah HBI-72 di Makam Pahlawan
Hari Bhakti Imigrasi 73 Tahun 2023

Peristiwa

Hari Imigrasi 73 Teladani Semangat Pejuang
Akun Medsos Bupati Sambas

Peristiwa

Awas, Catut Bupati Sambas Memangsa ASN

Peristiwa

Pria Wibawa Pimpin Ziarah HDKD ke 77
error: Content is protected !!