KUBU RAYA – Masyarakat Peduli Api (MPA) dan relawan di Dusun Re’es, Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan keterbatasan armada dan peralatan pemadaman.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Masyarakat Siaga Asap (Masa) Kalimantan Barat-Gemawan bersama Radio Showcase dan Books for Borneo. Mereka menyalurkan bantuan kepada MPA dan relawan di Dusun Re’es serta Dusun Panca Maju, Desa Pancaroba, Sabtu (12/9/2026).
Bantuan tersebut merupakan bagian dari aksi solidaritas peduli karhutla bertajuk “Sound Of Earth” dan “Books for Borneo”. Bantuan berasal dari donasi para pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Bantuan meliputi vitamin, masker, air mineral, susu, mi instan dan kebutuhan logistik lainnya.
Pegiat sosial, Arni, mengatakan bantuan tersebut menjadi bentuk dukungan moral dan material bagi petugas serta relawan yang menangani karhutla.
“Kami hadir untuk memberikan semangat kepada para petugas dan relawan pemadam kebakaran hutan. Kami berdoa semoga rekan-rekan yang terlibat dalam pemadaman api tetap diberikan kesehatan dan keselamatan,” kata Arni.
Menurut Arni, penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, organisasi sosial dan komunitas.
“Di tengah kondisi kemarau yang ekstrem, kita semua diminta untuk tetap menjaga lingkungan. Kita juga berharap cuaca segera mendukung dengan turunnya hujan sehingga proses pemadaman dapat berlangsung lebih optimal,” ujarnya.
Sejak 24 Agustus
Kepala Dusun Re’es, Toni, mengatakan kebakaran di wilayahnya mulai terjadi pada 24 Agustus 2026. Api kemudian muncul di sejumlah titik, termasuk kawasan hutan di RT 03 dan RT 01.
Medan yang sulit dan jarak sumber air dari titik api menjadi kendala utama pemadaman. MPA Dusun Re’es juga kekurangan armada dan selang untuk menjangkau titik kebakaran.
“Kami memang agak sulit menjangkaunya karena keterbatasan armada. Selang kami masih pendek sekarang, jadi sulit untuk mendapatkan air untuk proses pemadaman,” ujarnya.
Pada awal kebakaran, MPA Dusun Re’es mendapat bantuan dari MPA PT GAN. Sejumlah organisasi pemadam kebakaran dan anggota TNI kemudian turut membantu menangani beberapa titik api.
MPA Dusun Re’es telah terbentuk sekitar 2023–2024 dan masih aktif membantu penanganan karhutla. Namun, kebutuhan operasional mereka masih mengandalkan swadaya masyarakat. “Ada yang beli bensin, ada yang sukarela bikin makanan, bikin kopi. Swadaya masyarakat semua,” kata Toni.
Selain armada, MPA juga membutuhkan alat pelindung diri (APD), selang dan perlengkapan keselamatan. Pengajuan bantuan kepada perusahaan telah dilakukan sejak Agustus, tetapi bantuan tersebut belum diterima saat wawancara berlangsung.
Kebutuhan Utama
Pemadaman yang berlangsung berhari-hari membuat kebutuhan dasar menjadi penting. Relawan bekerja dalam kondisi panas, terpapar asap dan menghadapi medan yang sulit. “Kebutuhan air bersih untuk minum itu yang sangat diperlukan,” ujar Toni.
Relawan juga menghadapi persoalan api yang kembali muncul setelah dipadamkan. Kondisi itu membuat proses pemadaman semakin berat. “Api dipadamkan, beberapa menit kemudian hidup lagi. Sudah dipadamkan, hidup lagi. Itu yang bikin kita kewalahan juga,” katanya.
Karhutla turut mengganggu aktivitas warga. Sebagian masyarakat harus meninggalkan pekerjaan dan kebun untuk membantu pemadaman.
Gotong royong menjadi penopang utama. Warga menyediakan makanan, minuman, bahan bakar, tenaga dan kendaraan untuk mengangkut mesin serta selang.
Salah seorang warga bahkan menyediakan kendaraan secara sukarela selama sekitar satu minggu tanpa bayaran maupun penggantian bahan bakar. “Tanpa dibayar, tanpa digaji, tanpa diganti bensin. Sukarela,” tuturnya.
Toni mengapresiasi dukungan dari masyarakat luar yang ikut membantu kebutuhan MPA dan warga. “Kami bersyukur ada masyarakat yang peduli terhadap dusun kami terkait masalah kebakaran ini. Bantuan-bantuan seperti yang abang-abang dan kakak-kakak hantarkan ini sangat membantu tim, terutama tim pemadam dan masyarakat yang membantu,” ujarnya.
Aksi “Sound Of Earth” dan “Books for Borneo” diharapkan tidak berhenti pada penyaluran bantuan. Dukungan berkelanjutan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan logistik, peralatan pemadaman dan perlengkapan keselamatan bagi masyarakat yang berada di garis depan penanganan karhutla.
Penanganan karhutla juga membutuhkan upaya pencegahan melalui keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan komunitas untuk menjaga lingkungan serta mengurangi risiko kebakaran selama musim kemarau.[iz-citjour]
Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















