Home / Ekonomi

Senin, 11 Mei 2026 - 08:40 WIB

Kopi Liberika Kayong Utara Tembus Pasar Premium Dunia

TOP 20 UMKM Petani Kopi Terbaik Indonesia Binaan Bank Indonesia bersama-sama dengan Team Bank Indonesia, Yayasan KAPPI, dan Coffee Lab 5758.

TOP 20 UMKM Petani Kopi Terbaik Indonesia Binaan Bank Indonesia bersama-sama dengan Team Bank Indonesia, Yayasan KAPPI, dan Coffee Lab 5758.

BANGKOK – Di tengah dominasi kopi arabika dan robusta di pasar global, kopi liberika asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, justru mencuri perhatian dalam ajang internasional World of Coffee Bangkok 2026 di BITEC Bangkok, Thailand, 7-9 Mei 2026.

Dari ruang pamer yang dipenuhi aroma kopi berbagai negara, satu nama dari Kalimantan Barat muncul sebagai magnet baru, UMKM Kopi Kojal.

UMKM binaan Bank Indonesia Kantor Perwakilan Kalimantan Barat itu kembali masuk jajaran 20 kopi terbaik Indonesia hasil kurasi nasional Bank Indonesia. Tidak sekadar tampil, Kopi Kojal membawa capaian yang mengubah posisi kopi liberika dari “kopi pinggiran” menjadi komoditas premium dengan harga jual mencapai 35 dolar AS per kilogram atau sekitar Rp595 ribu.

Capaian tersebut lahir dari proses panjang riset pascapanen yang dilakukan owner UMKM Kopi Kojal, Gusti Iwan Darmawan, sejak 2019. Ia mengembangkan protokol pengolahan khusus untuk menghasilkan karakter rasa liberika yang lebih kompleks dan diterima pasar specialty coffee dunia.

Dari Kayong Utara ke Bangkok

Perjalanan Kopi Kojal menuju World of Coffee Bangkok tidak berlangsung instan. Pada 2025, kopi liberika Kayong Utara lolos kurasi nasional dengan nilai cupping 84,42 untuk proses semi wash dan 83,50 untuk natural dry. Hasil itu membawa Kopi Kojal tampil di World of Coffee Jakarta 2025.

Setahun berselang, kualitas kopi tersebut meningkat signifikan. Dalam kurasi 2026, sampel liberika Kayong Utara mencatat nilai cupping 85,58 dengan karakter rasa frizzy, grape, dan molasses. Nilai itu menjadi yang tertinggi di Kalimantan dan menyingkirkan pesaing dari Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga Kalimantan Utara.

Prestasi tersebut mengantar Kopi Kojal kembali menjadi delegasi Indonesia di World of Coffee Bangkok 2026 dengan fasilitasi penuh dari Bank Indonesia.

Baca juga:  Yasonna: Potensi Besar Perempuan Milenial

Di arena pameran internasional itu, respons pasar ternyata melampaui ekspektasi. Buyer dari Singapura, Dubai, Thailand, dan Swedia menyampaikan Letter of Intent (LoI) untuk pembelian kopi liberika Kayong Utara. Sejumlah buyer domestik seperti Anomali Coffee, Tanamera Coffee, Espresso Embassy Coffee Roaster, dan Akasa Coffee Bali juga menunjukkan minat serupa.

Potensi transaksi mencapai 84.875 dolar AS atau sekitar Rp1,4 miliar hingga Rp1,7 miliar per tahun dengan kebutuhan pasokan 2,5 hingga 3 ton kopi premium setiap tahun.

Ketika Liberika Jadi Primadona

Liberika selama ini sering berada di bayang-bayang arabika dan robusta. Namun di Bangkok, situasinya berubah. Kopi liberika Kayong Utara justru menjadi salah satu produk yang paling banyak dicicipi pengunjung.

Peserta pameran dari Malaysia dan Filipina, dua negara penghasil liberika di Asia Tenggara, mengapresiasi karakter rasa kopi Kayong Utara yang dinilai lebih bersih dan menyenangkan. Mereka bahkan mempertanyakan metode pascapanen yang diterapkan petani binaan Kopi Kojal.

Salah satu pengunjung dari Filipina disebut berencana mengundang tim Kopi Kojal untuk berbagi pengetahuan dan pelatihan pengolahan liberika di negaranya.

Fenomena itu memperlihatkan perubahan penting dalam industri kopi specialty. Pasar global mulai membuka ruang lebih luas bagi liberika, varietas kopi yang selama ini identik dengan lahan gambut dan produksi terbatas.

Ancaman di Balik Prestasi

Di balik pencapaian internasional tersebut, tersimpan persoalan serius. Sebaran kopi liberika binaan Kopi Kojal di Kayong Utara saat ini hanya tersisa sekitar tujuh hektare dengan sekitar 700 pohon per hektare.

Dari potensi produksi sekitar 14,7 ton green bean per tahun, hanya 4,41 ton yang mampu masuk kategori Grade 1 atau premium setelah proses sortir ketat. Sisanya masuk kategori mutu komersial.

Baca juga:  Potensi Ekonomi Desa di Kabupaten Sambas Melimpah

Artinya, permintaan pasar global yang mulai terbentuk justru berhadapan dengan keterbatasan produksi di tingkat hulu.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi petani dan UMKM lokal. Mereka harus menjaga konsistensi mutu, memperluas budidaya, sekaligus mempertahankan karakter rasa khas liberika Kayong Utara yang lahir dari kondisi tanah dan iklim spesifik di Desa Podorukun, Kecamatan Seponti.

Riset Lokal, Ambisi Global

Gusti Iwan Darmawan menilai keberhasilan tersebut bukan semata soal bisnis kopi, melainkan pembuktian bahwa riset lokal mampu menghasilkan produk berkelas dunia.

Ia mengembangkan metode pascapanen yang dapat diterapkan langsung oleh petani, dengan syarat utama penggunaan buah matang sempurna atau red cherry yang telah melalui proses sortir ketat.

Menurutnya, protokol tersebut belum tentu cocok diterapkan di daerah lain karena karakter tanah dan iklim setiap wilayah berbeda. Karena itu, pengembangan liberika memerlukan pendekatan berbasis ekosistem lokal, bukan sekadar meniru metode dari daerah lain.

Ke depan, Kopi Kojal bersama kelompok tani di Kayong Utara dan Kabupaten Melawi akan menyiapkan produksi untuk menghadapi seleksi kurasi kopi binaan Bank Indonesia tahun 2027 dengan target tampil di World of Coffee Tokyo 2027 di Jepang.

Ambisi itu terdengar besar untuk sebuah UMKM dari daerah pesisir Kalimantan Barat. Namun aroma liberika dari Kayong Utara kini telah membuka pintu baru. Dari kebun kecil di tepian gambut, kopi itu mulai menulis jalannya sendiri di panggung global.[id]

Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times

Share :

Baca Juga

Foto bersama pengurus Kelompok Usaha Rumahan Bioflok.

Ekonomi

Siasat Bioflok di Gang Sempit, Menyulap Pekarangan Jadi Lumbung Nila
Kantor Bank Kalbar pusat di Jalan Rahadi Usman Pontianak

Ekonomi

Cawu I April 2025, Bank Kalbar Raup Laba Rp183 M
Maman Abdurrahman, Menteri UMKM RI dalam acara Halal Bihalal DPD Partai Golkar Provinsi Kalbar.

Ekonomi

Hingga 13 April 2025, KUR Kalbar Tembus Rp844 Miliar
data SP2KP Kemendag

Ekonomi

Waduh.. Harga Bahan Pokok Naik Terus
Usaha Manisan Merem Melek

Ekonomi

Usaha Merem Melek Nita Semakin Moncer
Pasar Murah Mempawah

Ekonomi

Sembako Naik, Pemkab Mempawah Gelar Pasar Murah
Syukuran TKSK Mempawah

Ekonomi

14 Tahun TKSK Hadir Dampingi Masyarakat
Penghargaan untuk Bank Kalbar kategori penyaluran kredit UMKM

Ekonomi

Bank Kalbar Sangat Prima dalam Penyaluran Kredit UMKM
error: Content is protected !!