Home / Peristiwa

Selasa, 18 November 2025 - 17:03 WIB

Kerjasama Pers dan Platform Digital Dorong Jurnalisme Berkualitas

Alexander Suban, salah seorang narasumber Simposium Nasional yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Sabtu (15/11/2025) di Sekretariat SMSI Pusat.

Alexander Suban, salah seorang narasumber Simposium Nasional yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat, Sabtu (15/11/2025) di Sekretariat SMSI Pusat.

Jakarta – Kerjasama pers dan platform digital dapat mendorong jurnalisme berkualitas, sebab transformasi digital mennggalkan distribusi seperti era media cetak.

Demikian kesimpulan dari Simposium Nasional yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat bertema “Menyongsong Indonesia Emas 2045 Media Baru dan Platform Global Sebuah Keniscayaan”, Sabtu (15/11/2025) di Sekretariat SMSI Pusat.

Kegiatan itu sekaligus menjadi rangkaian acara pembukaan resmi Press Club Indonesia. Dalam sesi diskusi, Alexander Suban, salah seorang narasumber menekankan pentingnya kolaborasi antara perusahaan media dan platform digital.

Alexander yang merupakan Koordinator Bidang Organisasi dan Tata Kelola Publisher Rights Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB) ini menjelaskan saat ini platform digital memegang peranan dominan dalam penyebaran informasi.

“Perkembangan media saat ini menunjukkan bahwa distribusi berita banyak ditentukan platform digital. Karena itu, kerja sama antara media dan platform menjadi sangat penting,” ujar Alexander.

Ia menjelaskan bahwa Komite yang ia wakili bertugas memfasilitasi kerja sama antara perusahaan media dan platform digital, termasuk dalam hal bisnis, monetisasi, serta peningkatan kapasitas.

“Kami menyediakan fasilitasi bagi perusahaan media untuk menjalin kemitraan, mengikuti pelatihan, dan memanfaatkan fitur monetisasi demi memperkuat pemasukan perusahaan,” katanya.

Baca juga:  Korban Terakhir Perahu Tenggelam Ditemukan

Indonesia, kata Alexander, memiliki karakter budaya komunikasi yang khas, sehingga proses negosiasi dengan platform digital global kerap harus melibatkan persetujuan dari berbagai pihak terkait.

“Kami terus mendorong peningkatan regulasi agar media memiliki posisi yang kuat dalam bernegosiasi dengan platform,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, dirinya mengajak perusahaan pers untuk lebih aktif memanfaatkan fitur-fitur canggih yang disediakan platform digital agar dapat bersaing dan memperkuat keberlanjutan bisnis media.

Simposium tersebut juga menghadirkan narasumber kedua, Agus Sudibyo, yang menjabat sebagai Dewan Pengawas LPP TVRI.

Tanntangan Besar

Dalam pemaparannya, Anggota Dewan Pengawas LPP TVRI, Agus Sudibyo, menjelaskan kondisi nyata perusahaan media saat ini yang sedang menghadapi tantangan besar.

“Jika kita membayangkan Indonesia Emas 2045, maka dua puluh tahun ke depan tidak akan mudah. Tantangan media dua sampai tiga tahun ke depan saja sudah semakin kompleks dan sulit diperkirakan,” ujarnya.

Agus menyebut situasi media saat ini berada dalam ketidakseimbangan antara jumlah perusahaan pers dan kemampuan ekonomi yang menopang industri tersebut.

“Jumlah media tidak seimbang dengan kondisi ekonomi kita. Setiap tahun ratusan media terus berdiri tanpa mengindahkan realitas ekonomi yang ada,” katanya.

Ia juga menyoroti persoalan tanggung jawab bersama di antara pelaku industri media, termasuk peran organisasi seperti SMSI dalam memperjuangkan ekosistem yang lebih adil, khususnya terkait insentif dan hubungan dengan platform digital.

Baca juga:  Diskusi Nasional SMSI Kupas Tuntas Media Baru dan UU ITE

Dalam pemaparannya, Agus turut menyinggung perkembangan kecerdasan buatan (AI). “AI seperti ChatGPT akan semakin cerdas jika data yang diproduksi benar, baik yang berasal dari media sosial, konten buatan AI sendiri, maupun konten media massa,” ucapnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada konten yang dibangun AI dapat berdampak negatif.

“Dari tiga sumber itu, jika kualitasnya rendah, maka AI justru bisa meracuni. Semakin tidak cerdas datanya, semakin bodoh hasilnya,” ujarnya.

Agus menilai situasi bisa menjadi semakin kompleks ketika mayoritas media menggunakan AI untuk produksi konten. “Bayangkan jika dari 1.000 media, 900 di antaranya memakai AI. Kita bisa banjir konten, sementara kualitasnya belum tentu membaik,” katanya.

Ia juga menyoroti tantangan model bisnis media yang kian berat. “Biaya produksi tinggi, persaingan iklan ketat. Pertanyaannya, jualannya di mana? Iklannya di mana? Dua tahun ke depan media massa di Indonesia akan seperti apa?” ujarnya.

Simposium Nasional SMSI tersebut ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif antara peserta dan narasumber. (rls/smsi)

Update Berita, ikuti Google News

Share :

Baca Juga

pontianak-times.co.id

Peristiwa

BIN Kalbar ‘Gempur’ Perbatasan Negara
Bong Bui Lip

Peristiwa

Sinsang Bunuh Diri Akibat Depresi
Aksi massa karyawan PT Duta Palma Grup

Peristiwa

Karyawan dan Aparat Bentrok di Kebun Sawit Duta Palma Bengkayang
JAksa Agung dan pengurus SMS

Peristiwa

Jaksa Agung Minta SMSI Kawal Kinerja Jaksa
Proyek Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya

Peristiwa

PT WIKA Belum Bayar PJU-TS di Sambas
Presiden RI Prabowo Subianto didampigi Kapolri Listyo Sigit Prabowo usai menjenguk korban aksi massa di RS Polri Kramat Jati.

Peristiwa

Prabowo: Aparat Kantongi Mafia Dalang Kericuhan
Pagar Lorong Ruko Pasar Hongkong

Peristiwa

Satpol PP Arogan Bongkar Pagar Pasar Hongkong
Ny. Nunuk Sigid Tri Hardjanto menyerahkan paket bantuan untuk tenaga kesehatan, Kamis (12/8/2021). foto: Humas Polda Kalbar

Peristiwa

Ratusan Paket untuk Nakes dari Polwan Kalbar
error: Content is protected !!