PONTIANAK – Muhammadiyah Kalbar mengaktifkan Poskor (Pos Koordinasi) Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) untuk menyatukan respons kesehatan, logistik, relawan, dan kebencanaan melalui One Muhammadiyah One Response.
Pengerahan seluruh potensi persyarikatan ini untuk merespons Karhutla di sejumlah wilayah Kalbar. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalbar mengoperasikan Poskor Penanganan Karhutla yang berpusat di SMA Muhammadiyah 1 Pontianak.
PWM Kalbar menerapkan prinsip One Muhammadiyah One Response (OMOR) dengan melibatkan majelis, lembaga, amal usaha Muhammadiyah (AUM), organisasi otonom (ortom), serta fasilitas pendidikan dan kesehatan.
Konsolidasi tersebut menindaklanjuti rapat koordinasi pada 23 Agustus 2026. PWM Kalbar kemudian menggelar rapat lanjutan di Ruang 9 C Lantai 1 SMP Muhammadiyah 1 Pontianak, Jalan Ahmad Yani, Selasa (25/8/2026).
Rapat melibatkan sejumlah unsur Muhammadiyah, antara lain pimpinan Universitas Muhammadiyah Pontianak, ITEKes Muhammadiyah Kalimantan Barat, Polita Pontianak, pimpinan ortom tingkat wilayah, MPKU, MPI, MDMC, Majelis Dikdasmen dan PNF, Majelis Lingkungan Hidup (MLH), Majelis Hukum dan HAM (MHH), LHKP, LPHB, Lazismu, kepala sekolah Muhammadiyah se-Kota Pontianak, serta pimpinan klinik dan rumah sakit Muhammadiyah/Aisyiyah.
Wakil Ketua PWM Kalbar yang membidangi Majelis Kesehatan Umum dan Kesejahteraan Sosial sekaligus unsur Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Dr. Ishak Jumarang, M.Si., mengatakan konsolidasi tersebut menjadi respons Muhammadiyah terhadap kondisi karhutla di Kalbar.
“Teknisnya sudah kami lakukan pada 23 Agustus dan hari ini kita operasikan secara riil dengan menghadirkan seluruh unsur Muhammadiyah, termasuk amal usaha, pengusaha, sekolah, kampus, majelis dan lembaga terkait,” ujar Ishak.
Menurut Ishak, Muhammadiyah mengarahkan seluruh potensi persyarikatan untuk mendukung penanganan karhutla, mulai dari kesehatan, sosial, logistik hingga respons kebencanaan.
SMA Muhammadiyah 1 Pontianak menjadi salah satu titik dapur relawan. Dapur tersebut menyuplai makanan dan minuman bagi relawan serta masyarakat yang membutuhkan.
Rumah Oksigen
Muhammadiyah juga mengaktifkan kembali sejumlah rumah oksigen yang tersedia di fasilitas Muhammadiyah. Fasilitas tersebut membantu masyarakat yang terdampak asap karhutla.
“Rumah oksigen yang sudah tersedia akan kita fungsikan kembali untuk mendukung penanggulangan dampak Karhutla di Kalimantan Barat,” jelas Ishak.
Fasilitas rumah oksigen antara lain berada di lingkungan SMA Muhammadiyah 1, sejumlah kampus, sekolah di Jalan Ahmad Yani, dan Perguruan Muhammadiyah Kota Baru. Muhammadiyah juga menyiapkan rumah oksigen baru di kawasan Jeruju dengan memanfaatkan fasilitas SMK Muhammadiyah 1 dan SMP Muhammadiyah 3.
Pada tahap awal, Muhammadiyah memfokuskan respons di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. MDMC wilayah bersama MDMC kabupaten/kota juga telah merespons kebakaran di sejumlah titik.
“Ini merupakan wujud dukungan MDMC dan Lazismu yang kemudian kita perkuat dengan melibatkan seluruh majelis dan lembaga terkait, baik di bidang kesehatan, sosial maupun hukum,” kata Ishak.
Fokus Kesehatan Relawan
Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PWM Kalbar sekaligus Koordinator Poskor Penanganan Karhutla Muhammadiyah Kalbar, Hermayani Putra, mengatakan konsolidasi tersebut bertujuan menyatukan seluruh potensi Muhammadiyah dalam menghadapi karhutla.
Menurut Hermayani, respons terhadap karhutla tidak cukup dengan memadamkan api. Muhammadiyah juga memberi perhatian pada dampak kesehatan dan sosial akibat asap.
“Ini pertemuan kedua kita untuk mengonsolidasikan dan mengoordinasikan semua potensi yang ada di persyarikatan sebagai respons Muhammadiyah dengan prinsip One Muhammadiyah One Response terhadap penanganan Karhutla,” ujar Hermayani.
Muhammadiyah menyiapkan rumah oksigen bagi masyarakat yang terpapar asap sekaligus mendukung kesehatan para relawan.
“Kita konsen kepada kesehatan para relawan, juga mengupayakan hadirnya dapur-dapur relawan sehingga bisa menyuplai kebutuhan seperti makanan bergizi, susu, air mineral, APD, dan kebutuhan operasional di lapangan,” jelasnya.
Muhammadiyah juga membuka penggalangan dukungan pendanaan dan pemenuhan logistik agar bantuan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Pusat Koordinasi
Hermayani mengatakan Poskor Penanganan Karhutla Muhammadiyah Kalbar menjadi simpul koordinasi dan komunikasi seluruh unsur persyarikatan.
Poskor menghubungkan MDMC dan Lazismu dengan majelis, lembaga, ortom, AUM, sekolah, perguruan tinggi, serta fasilitas kesehatan Muhammadiyah dan Aisyiyah.
“Kita melihat kebutuhan itu harus satu pintu. Bukan hanya untuk konsolidasi internal, tetapi juga untuk memastikan layanan yang dibutuhkan masyarakat bisa segera diberikan,” katanya.
Tim posko mengidentifikasi kebutuhan di lapangan dan mengoordinasikan mobilisasi dukungan dari berbagai unsur. Muhammadiyah juga menyiapkan ambulans untuk mendukung mobilisasi dan pelayanan kesehatan.
Sejumlah ambulans milik Muhammadiyah akan beroperasi dengan dukungan tenaga pengemudi dan kebutuhan operasional lainnya.
Poskor juga membuka koordinasi dengan pihak di luar Muhammadiyah. Kolaborasi lintas lembaga menjadi bagian dari strategi untuk memperluas penanganan dampak karhutla.
OMOR
Prinsip One Muhammadiyah One Response mengarahkan seluruh unsur Muhammadiyah bergerak secara terpadu dalam satu koordinasi untuk merespons bencana dan persoalan kemanusiaan.
Konsep tersebut menekankan tiga prinsip utama, yakni satu komando, satu bendera, dan terintegrasi. MDMC, Lazismu, majelis, lembaga, ortom, AUM, tenaga kesehatan, serta unsur Muhammadiyah lainnya bergerak dalam koordinasi yang sama.
Respons Muhammadiyah terhadap karhutla mencakup pemantauan dan penanganan kebakaran, layanan kesehatan, rumah oksigen, dapur relawan, distribusi logistik, perlindungan relawan, penyediaan ambulans, hingga edukasi masyarakat.
“Kita juga ingin menjalin kolaborasi dengan pihak-pihak di luar Muhammadiyah sehingga gerakan kemanusiaan ini bisa lebih kuat,” kata Hermayani.
Koordinasi juga berlangsung dengan unsur Muhammadiyah di tingkat daerah dan cabang yang wilayahnya terdampak karhutla. Tim memetakan kebutuhan setiap wilayah untuk kemudian mengerahkan dukungan yang tersedia.
Melalui pengaktifan Poskor dan penerapan prinsip One Muhammadiyah One Response, Muhammadiyah Kalbar menyatukan sumber daya untuk bergerak cepat, terarah, dan terkoordinasi dalam membantu masyarakat menghadapi dampak karhutla.[rl/muh]
Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















