KUBU RAYA – Muhammadiyah dan Aisyiyah Kubu Raya bersama sejumlah lembaga menghadirkan Rumah Oksigen Kolaborasi untuk membantu warga menghadapi dampak kabut asap karhutla.
Muhammadiyah dan Aisyiyah Kubu Raya bersama Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Kalimantan Barat, dan Kecamatan Sungai Ambawang meluncurkan Rumah Oksigen Kolaborasi, Selasa (22/9/2026).
Layanan tersebut bertempat di Kantor Camat Sungai Ambawang, Jalan Lintas Kalimantan, Sungai Ambawang Kuala, Kabupaten Kubu Raya.
Rumah Oksigen Kolaborasi ini hadir sebagai respons terhadap memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla. Program ini menyediakan Rumah Oksigen, pemeriksaan kesehatan, vitamin, dan masker secara gratis bagi masyarakat.
Camat Sungai Ambawang Jurin, SE, mengatakan kolaborasi berbagai pihak memperkuat upaya menghadapi dampak kabut asap.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi kondisi seperti ini. Kehadiran Rumah Oksigen merupakan bentuk nyata gotong royong untuk membantu masyarakat, terutama kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan lebih ketika kualitas udara memburuk,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kubu Raya Wan Iwansyah, S.Pd., S.K.M., M.A.P., menekankan pentingnya layanan kesehatan yang cepat dan mudah dijangkau masyarakat.
“Dalam situasi kabut asap, masyarakat perlu mendapatkan informasi, pencegahan, dan pelayanan kesehatan yang mudah diakses. Rumah Oksigen ini menjadi bagian dari upaya bersama untuk mengurangi risiko dampak asap terhadap kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Ketua AIMI Kalimantan Barat drg. Rizky Pontiviana A., M.Kes., menyoroti perlindungan bagi kelompok rentan, terutama bayi dan anak.
“Bayi dan anak-anak membutuhkan perhatian khusus ketika kualitas udara menurun. Karena itu, kami mendukung hadirnya ruang yang aman dan layanan yang membantu orang tua melindungi kesehatan anak di tengah kondisi kabut asap,” katanya.
Respons Karhutla
Saparin dari YBM PLN mengatakan kolaborasi penting agar dukungan kepada masyarakat tidak berhenti pada bantuan sesaat.
“Kami ingin menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menjaga kesehatan masyarakat. Rumah Oksigen ini bukan hanya tentang menyediakan fasilitas, tetapi tentang membangun kepedulian dan memastikan masyarakat tidak menghadapi kondisi darurat ini sendirian,” ujarnya.
Ketua PDM Kubu Raya Alif Syaifuddin, S.Pd., M.Si., mengatakan Muhammadiyah berkomitmen menghadirkan gerakan kemanusiaan yang menjawab kebutuhan masyarakat.
“Ketika masyarakat menghadapi persoalan yang menyangkut keselamatan dan kesehatan, kita harus hadir. Rumah Oksigen adalah bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk berkhidmat dan bekerja bersama semua pihak dalam menjaga napas warga,” katanya.
Ketua PDA Kubu Raya Azizah Mutiah, S.Ag., mengatakan Aisyiyah akan terus mengambil bagian dalam perlindungan perempuan, ibu, dan anak.
“Perempuan, ibu, dan anak merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam situasi bencana asap. Aisyiyah ingin memastikan gerakan ini tidak hanya hadir sebagai respons darurat, tetapi juga mendorong kesadaran keluarga untuk menjaga kesehatan dan melindungi anggota keluarga yang rentan,” ujarnya.
Perlindungan Warga
Kehadiran Rumah Oksigen Kolaborasi menunjukkan bahwa penanganan karhutla juga membutuhkan perlindungan terhadap warga yang terdampak.
Kabut asap dapat menyelimuti permukiman, sekolah, tempat kerja, dan ruang publik. Kondisi tersebut berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, serta warga yang memiliki masalah pernapasan.
Para pihak yang hadir melihat Rumah Oksigen Kolaborasi sebagai bagian dari gerakan bersama yang perlu terus diperkuat. Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam penanganan karhutla dan kesehatan masyarakat, sementara masyarakat sipil, dunia usaha, organisasi sosial, lembaga keagamaan, tenaga kesehatan, relawan, dan warga dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
Rumah Oksigen menjadi ruang yang mempertemukan berbagai peran tersebut. Kehadirannya tidak menggantikan tanggung jawab pemerintah, tetapi memperkuat respons agar layanan lebih dekat dan cepat menjangkau warga yang membutuhkan.
Gerakan kolaborasi tersebut juga diharapkan terus berjalan setelah kabut asap mereda. Pengalaman menghadapi karhutla dapat menjadi pembelajaran untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat, meningkatkan kesadaran perlindungan kesehatan, serta mendorong pencegahan kebakaran.
Pemerintah, Muhammadiyah dan Aisyiyah, YBM PLN, AIMI, tenaga kesehatan, dunia usaha, komunitas, relawan, dan masyarakat dapat mengambil peran dalam menjaga ruang hidup yang sehat dan aman.[rls]
Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















