Home / Politik

Rabu, 29 Mei 2024 - 14:09 WIB

Pilwako Singkawang Diselimuti Siklus Politik Etnis

Pintu gerbang masuk ke Kota Singkawang di sekitar Pasir Panjang

Pintu gerbang masuk ke Kota Singkawang di sekitar Pasir Panjang

Singkawang. Dalam perhelatan setiap periode Pilwako Singkawang, selalu diselimuti dengan siklus politik etnis. Siapa yang bakal unggul pada Pilkada Serentak 2024?

Siklus politik etnis ini tidak dapat dihindari karena mayoritas pemilih di kota yang menyabet predikat ‘Kota Tertoleran’ ini, masih mengandalkan pada komposisi etnis yang didominasi Melayu dan Tionghoa. Selebihnya adalah etnis Madura, Dayak, Jawa dan belasan suku lainnya.

Dari sejarah kepemiluan di Kota Singkawang, dimulai dengan periodisasi penjabat 17 Oktober 2001 – 17 Desember 2002 oleh pasangan Drs H Awang Ishack dan Drs Raymundus Sailan yang menjadi representasi Melayu dan Dayak.

Memasuki Pilkada Langsung pertama, terjadi euforia warga Tionghoa Singkawang setelah lepas dari situasi nasional pasca reformasi 98. Kemudian terpilihlah DR Hasan Karman SH MH alias Bong Sau Fan (Tionghoa) – DR H Edy R. Yacoub (Melayu) untuk periode 17 Desember 2007 – 17 Desember 2012.

Pada Pilkada tersebut diikuti lima pasangan calon dan Hasan – Edy memperoleh suara 36. 103 suara (41.8%) mengalahkan petahana Awang Ischak – Raymundus Sailan yang mendapat suara di urutan kedua sebesar 30.706 suara (35.6%). Disusul pasangan Darmawan – Ignatius Apui 13.716 suara  (15.9%), Suyadi Wijaya – Bong Wui Khong 3.006 suara (3.5%) dan Syafei Djamil – Felix Periyadi 2.763 suara (3.2%).

Kemenangan Hasan – Edy juga menggambarkan begitu kentalnya politik identitas di Kota Singkawang, melalui pola pemasangan kandidat yang menempuh bargaining power. “Dendam Politik” begitu kental terlihat pada Pilkada langsung kedua pada 20 September 2012.

Incumbent Hasan Karman yang berganti pasangan dengan Ahyadi akhirnya tumbang dalam Pilkada yang diikuti empat kandidat yaitu Awang Ishack (Melayu/Muslim) – Abdul Muthalib (Madura/Muslim), Henoch Thomas – Rozanuddin, Hasan Karman (Tionghoa) – Ahyadi (Dayak/Katholik), Nusantio (Tionghoa/Budha) – Tasman (Jawa/Muslim).

Pasangan Awang Ischak – Abdul Muthalib melenggang ke periode 2012 – 2017 dengan meraih suara terbanyak dengan melampaui 3000 suara dari Hasan Karman – Ahyadi. Secara rinci Awang – Abdul 44.082 (45,50%) , Henoch – Rozanuddin 2.441 (2,50%), Hasan Karman – Ahyadi 41.539 suara (42,57%). Nusantio – Tasman 9.515 (9,57%).

Baca juga:  Satono-Hero Pasangan Tangguh Pilkada Sambas 2024

Jika ditelaah, kekalahan Hasan Karman terjadi karena tak lagi didukung tokoh dan warga Tionghoa yang banyak kecewa terhadap hasil selama dirinya memimpin. Kekecewaan tersebut lantas diejawantahkan melalui pertarungan politik dengan cara membuat pasangan calon pemecah suara Tionghoa dalam Pilkada, sehingga muncul Henoch dan Nusantio.

Nuansa serupa terjadi pada Pilkada Langsung di tahun 2017 yang dipicu aturan Walikota petahana, Awang Ishak tidak boleh maju lagi sebagai kandidat karena sudah pernah menjabat dua periode sebagai Walikota Singkawang.

Pilkada 15 Februari 2017 ini diikuti empat pasangan kandidat antara lain Tjhai Nyit Kim (Tionghoa/Muslim) – Suriyadi (Melayu/Muslim), Tjhai Chui Mie, SE MH (Tionghoa/Budha) – Drs H Irwan MSi (Melayu/Muslim), Abdul Muthalib (Madura/Muslim) – Muhammadin (Melayu/Muslim), dan Andy Syarif (Melayu/Muslim) – Nurmansyah (Melayu/Muslim).

Pemecah Suara

Komposisi kandidat persis terbalik di tahun 2012. Kalau di Pilkada 2012, terdapat kandidat pasangan pemecah suara Tionghoa, maka di 2017 terdapat pemecah suara Melayu/Muslim. Bedanya hanya sedikit saja, lantaran masih ada calon yang berdarah Tionghoa yakni istri Awang Ishack.

Pasangan Tjhai Chui Mie – Irwan yang didukung Parpol PDIP, Nasdem, Demokrat dan Hanura unggul sebagai pemenang dengan mengantongi suara sebanyak 39.288 (42,7%). Disusul Abdul Muthalib – Muhammadin  30.971 (33,7%), Tjhai Nyit Kim – Suriyadi 19.215 (20,9%) dan Andy Syarif – Nurmansyah 17.077 (10,4%).

Dilihat dari prosentase kemenangan pada setiap pertarungan Pilkada Singkawang, terdapat range antara 40 hingga 43 persen perolehan  suara  untuk  mencapai titik aman. 

Ada  beberapa  catatan  yang  membedakan di perhelatan 2017 yang sebetulnya posisi Tjhai Chui Mie sangat rawan dikalahkan jika tidak ditopang hasil kerja Irwan sebagai sosok pendulang suara yang identik dengan jargon ‘nasionalis-religius’.

Sebab, ketika itu Tjhai Chui Mie tengah dihakimi publik lantaran kasus kalender komunisme. Ditambah lagi pusaran politik nasional bersamaan dengan Pilkada DKI Jakarta dengan muatan politik identitas yang cukup deras.

Baca juga:  Golkar Singkawang Target Kursi Hingga Cawako
Politik Identitas

Menurut Pengamat Politik Dr Jumadi SSos MSi, pertarungan politik identitas tetap berlaku karena kecenderungan masyarakat memilih berdasarkan etnis. Tinggal bagaimana bisa dikelola secara arif dan bijaksana. “Pilihan untuk itu sulit, karena fragmentasi dua kelompok,” ujar Jumadi.

Jumadi yang juga Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura ini menjelaskan incumbent Tjhai Chui Mie di Pilwako 2024 memiliki peluang besar kembali terpilih, jika banyak figur yang maju untuk bertarung.

“Kecuali head to head, lain lagi kalkulasinya. Misalnya saja ada bakal kandidat Andy Syarif dan tokoh lainnya,” kata Jumadi seraya menyebutkan masing-masing figur saat ini sudah mengantongi hasil riset sebagai naskah akademik sebagai gambaran untuk maju dalam kontestasi Pilkada.

Jumadi menganggap pemaketan pasangan calon oleh Partai Politik di Pilwako Singkawang masih berjalan dinamis. “Menurut saya masih cair, akan mengerucut nantinya termasuk Pilgub pada akhir Juli atau awal Agustus 2024,” kata Jumadi.

Sementara itu, pengusungan calon oleh Partai Politik di Kota Singkawang berdasarkan komposisi kursi di DPRD Kota Singkawang, minimal sepasang calon diusung oleh 6 kursi hasil Pileg 2024.

Perolehan kursi itu meliputi PKB (5), PDIP (5), Nasdem (3), PKS (4), PAN (4), Demokrat (3), Gerindra (2), Golkar (3), dan Hanura (1). Artinya, tidak ada satu Parpolpun yang dapat mengusung paslon, kecuali harus berkoalisi.

Beberapa alternatif koalisi itu antara lain Koalisi Parpol Gemuk yang berimbas pada terciptanya pasangan kandidat ‘head to head’ antar petahana dan paslon yang berseberangan. Sekaligus menghindari adanya pasangan kandidat pemecah suara.

Alternatif kedua, koalisi Parpol Menengah yang berimbas munculnya tiga pasangan kandidat dengan hadirnya satu pasangan kandidat yang bertugas membuat konsentrasi suara kandidat lawan melorot.

Alternatif ketiga, koalisi Parpol Ramping dengan komposisi pasangan kandidat sebanyak empat pasang. Semua alternatif itu dapat dikonstruksikan untuk alasan memenangkan Paslon tertentu.

Penulis: R. Rido Ibnu Syahrie I Update Berita, ikuti Google News

Share :

Baca Juga

Heri Mustamin

Politik

Heri Mustamin: Junjung Tinggi Moral dalam Berdemokrasi
Aliansi Mahasiswa

Politik

Dukungan Publik 02 Tak Terbendung, Mahasiswa di Kalbar Demo
Prabasa Anantatur

Politik

Golkar Kalbar Tasyakuran Pemilu 2024
9 Parpol Lolos Parliamentary Threshold

Politik

Komposisi Parpol Jelang Pilpres 2024
Bupati Melawi

Politik

Bupati Melawi Telan Pil Pahit Lima Fraksi
Safari Ramadan Golkar

Politik

Konsolidasi Partai Golkar Kalbar Lanjut Usai Lebaran
PKP Berdikari

Politik

PKP Berdikari Ekspos Ganjar di Kacirebonan
Jumpa pers Airlangga Hartarto

Politik

Airlangga Minta Golkar Kalbar 13 Kursi
error: Content is protected !!