Pontianak – Ruang kelas 2.3 di Gedung Kuliah Bersama (Gedung A) Universitas Tanjungpura mendadak riuh. Pagi itu, mata kuliah Ekonomi Politik Indonesia tidak sekadar menyuguhkan deretan teori usang dari buku teks.
Di hadapan para mahasiswa, hadir sebuah realita tentang kedaulatan pangan dan politik sumber daya alam yang terangkum dalam satu nama: Tengkawang.
Dosen pengampu, Firdaus, S.Ip., M.Sos., sengaja menghadirkan Deman Huri, S.Hut., seorang praktisi sekaligus eksportir tengkawang, untuk menjembatani jurang antara diskursus akademik dan realitas pasar global.
“Teori itu sudah biasa, tetapi praktik itu yang luar biasa,” tegas Firdaus, membuka cakrawala mahasiswanya tentang pentingnya melihat ekonomi politik dari kacamata aktor lapangan.
Sains di Balik Pengetahuan ‘Kuno’
Deman Huri, yang akrab disapa Kang Deman, memulai paparannya dengan mematahkan stigma. Selama ini, pengetahuan lokal sering kali dianggap sebagai warisan kuno yang tidak relevan. Namun, di tangan para praktisi, pengetahuan tradisional ini justru bertransformasi menjadi sains tingkat tinggi.
“Kami menjadikan apa yang dianggap orang sebagai sesuatu yang kuno, lalu kami mengubahnya menjadi ilmu pengetahuan,” ungkap Kang Deman yang juga Direktur Lembaga Intan, sebuah lembaga yang berfokus pada konservasi Pohon Tengkawang.
Salah satu fakta mencengangkan yang diungkap adalah kandungan nutrisi buah tengkawang. Berdasarkan riset, kandungan omega-3 dalam buah tengkawang diklaim lebih tinggi dibandingkan ikan salmon. Fakta ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan solusi politis bagi isu kesehatan nasional, yakni pencegahan stunting pada anak.
Identitas dan Kedaulatan
Bagi masyarakat Kalimantan Barat, baik etnis Dayak maupun Melayu, tengkawang adalah identitas. Minyak tengkawang atau yang dikenal sebagai green butter telah lama menjadi bagian dari ritual adat hingga pengobatan tradisional.
Namun, secara ekonomi politik, tengkawang menawarkan posisi tawar yang lebih kuat dibandingkan komoditas monokultur. Kang Deman menjelaskan bahwa karakteristik minyak tengkawang sangat unik; titik lelehnya mendekati suhu tubuh manusia. Hal ini menjadikannya bahan baku kosmetik premium (body cream) yang sangat dicari pasar internasional.
Melawan Arus Monokultur
Diskusi memanas saat membahas ketergantungan ekonomi Kalimantan Barat pada komoditas sawit dan karet. Menurut Kang Deman, tengkawang adalah jawaban atas tantangan lingkungan dan fluktuasi harga komoditas global.
“Kalau potensi tengkawang dimaksimalkan, masyarakat Kalimantan Barat tidak perlu terlalu bergantung pada karet dan sawit,” tegasnya.
Berbeda dengan sawit yang membutuhkan pembukaan lahan masif, tengkawang adalah tanaman hutan yang ramah lingkungan dan menjaga ekosistem tetap terjaga. Hampir seluruh bagian tanaman, mulai dari akar hingga daun, memiliki nilai guna.
Mendorong Perubahan Regulasi
Keberhasilan Kang Deman dan rekan-rekannya tidak hanya berhenti pada ekspor. Mereka berhasil menyentuh ranah politik praktis dengan memengaruhi regulasi terkait pengelolaan tanaman lokal. Ini adalah bukti nyata bagaimana pemberdayaan sumber daya alam dapat menjadi strategi ekonomi politik yang berkelanjutan.
Melalui forum ini, para mahasiswa diajak menyadari bahwa masa depan ekonomi politik Kalimantan Barat mungkin tidak berada di tangan korporasi besar, melainkan terkubur di bawah rimbunnya pohon-pohon tengkawang yang menunggu untuk diberdayakan kembali.
Penulis : Deo Capala (Mahasiswa Ilmu Politik Untan) I Editor: R. Rido Ibnu Syahrie
Update Berita, ikuti Google News



















