Home / Ekonomi

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:14 WIB

Dari Oven Rumahan, Nastar Molila Cookies Menembus Pasar Kalbar

Hartini dan produk makanan olahan Molila Cookies.

Hartini dan produk makanan olahan Molila Cookies.

SEKADAU – Sebuah oven menjadi titik awal perjalanan Hartini membangun Molila Cookies. Dari dapur rumah di Jalan Pelajar, Sungai Ringin, Kabupaten Sekadau, ia mengolah keterbatasan menjadi peluang setelah pandemi Covid-19 menekan aktivitas usaha yang sebelumnya ia jalankan.

Kini, oven itu bukan lagi satu-satunya penanda perkembangan usahanya. Molila Cookies telah memiliki dua oven, tiga mixer dengan salah satunya berkapasitas sekitar 20 liter, outlet sendiri, layanan pembayaran digital melalui QRIS, serta produk yang telah mengantongi izin BPOM dan sertifikasi halal.

Perjalanan itu tumbuh perlahan. Tidak ada lompatan besar dalam satu malam. Hartini memulainya dari produksi kecil-kecilan, mengamati permintaan pasar, lalu menambah peralatan ketika pesanan mulai meningkat.

Molila Cookies menawarkan sejumlah kue kering lain, antara lain sultan, kacang goreng, dan bakpia. Para pelanggan lebih banyak mengenal produknya adalah nastar.

Dipaksa Pandemi

Pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik balik bagi Hartini. Penurunan aktivitas pasar membuat usaha keluarga ikut merasakan tekanan. Alih-alih berhenti, ia memilih mencari celah baru.

“Dari hikmah Covid kemarin, usaha kita di pasar agak menurun. Jadi kita putar otak, istilahnya. Kita bikin usaha baru dengan merintis kue kering, khususnya nastar. Awalnya sedikit-sedikit, akhirnya semakin banyak,” ujar Hartini.

Ia memulai produksi menggunakan peralatan yang tersedia di rumah. Oven berkapasitas kecil cukup untuk memenuhi pesanan awal. Namun ketika pelanggan mulai datang dari luar daerah, kapasitas produksi tidak lagi mampu mengikuti permintaan.

Saat itulah Hartini mulai menyadari bahwa pertumbuhan usaha membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Ia membutuhkan peralatan yang mampu mengejar pasar.

KUM Bank Kalbar

Akses pembiayaan kemudian membuka ruang baru bagi Molila Cookies. Hartini memperoleh Kredit Usaha Mikro (KUM) Bank Kalbar sebesar Rp5 juta. Ia menggunakan dana tersebut untuk membeli oven dengan kapasitas lebih besar.

“Waktu itu Bank Kalbar membantu saya dengan biaya KUM untuk UMKM. Kita dapat Rp5 juta dan kita beli oven yang lebih besar daripada oven sebelumnya. Karena oven yang kita punya produksinya tidak bisa banyak, sedangkan permintaan sudah mulai meningkat dan ada permintaan kirim ke luar kota,” katanya.

Bagi usaha berskala rumah tangga, tambahan satu oven bukan sekadar penambahan alat. Oven tersebut menjadi bagian dari upaya Hartini memenuhi pesanan yang terus tumbuh.

Dari satu oven, Molila Cookies kini memiliki dua. Peralatan pengaduk adonan juga berkembang. Mixer yang awalnya berukuran kecil kini berjumlah tiga unit, dengan kapasitas salah satunya mencapai sekitar 20 liter. Perubahan itu membuat Hartini semakin berani mengambil peluang pasar.

“Dari alat-alat, oven dari satu bisa jadi dua. Mixernya dari satu bisa jadi tiga. Alhamdulillah, dengan bantuan alat pada awal mulanya itu, kita semakin berani untuk mengembangkan usaha agar lebih maju,” ujarnya.

Baca juga:  Baznas Bantu 50 Rumah Tak Layak di Kalbar
Dari Dapur ke Outlet

Pertumbuhan Molila Cookies kemudian memasuki babak baru. Hartini membuka outlet untuk mendekatkan produknya kepada konsumen.

Saat Hartini menyampaikan kesaksiannya, outlet tersebut baru beroperasi sekitar satu hingga dua hari. Namun Hartini, pembukaan outlet memiliki arti lebih besar daripada sekadar tempat berjualan.

Outlet menjadi pintu baru untuk memperluas pasar. Konsumen lama maupun pelanggan baru kini dapat datang langsung untuk mendapatkan produk Molila Cookies.

Hartini juga mengikuti perubahan perilaku konsumen dalam bertransaksi. Ia menyediakan QRIS sehingga pelanggan dapat membayar tanpa membawa uang tunai.

“Sekarang dengan adanya outlet Molila Cookies, masyarakat yang mau belanja, konsumen baru maupun yang sudah lama, tidak harus membawa uang cash. Kita sekarang sudah ada QRIS, jadi pembayarannya bisa langsung tap melalui QRIS,” tutur Hartini.

Kepercayaan dalam Sebungkus Nastar

Pertumbuhan usaha tidak hanya berkaitan dengan jumlah oven dan mixer. Hartini juga memperhatikan aspek legalitas produk.

Nastar Molila Cookies telah memiliki izin BPOM dan sertifikasi halal. Bagi Hartini, legalitas tersebut membantu membangun kepercayaan konsumen sekaligus memberikan kepastian terhadap produk yang mereka konsumsi.

“Dengan brand Molila Cookies, nastar yang diproduksi ini sudah memiliki izin BPOM. Kita juga sudah halal, sehingga produknya dijamin higienis dan kehalalannya,” katanya.

Legalitas menjadi semakin penting ketika Hartini mulai membidik pasar yang lebih luas. Produk rumahan yang ingin menembus pasar antardaerah membutuhkan kepercayaan, konsistensi kualitas, dan kesiapan produksi.

Pembiayaan

Hartini melihat pembiayaan bukan sebagai tujuan akhir. Ia menganggap pembiayaan sebagai pijakan untuk memperbesar kemampuan usaha.

Ia berharap dapat meningkatkan skala pembiayaan dari KUM menuju Kredit Usaha Rakyat (KUR) ketika kondisi bisnis dan kebutuhan modal sudah memenuhi persyaratan. “Saya berharap nanti dari KUM kita bisa naik ke KUR,” ucapnya.

Bank Kalbar memang menyediakan sejumlah skema pembiayaan untuk pelaku UMKM. Salah satunya KUM Peduli sebagai rancangan program pinjaman modal untuk membantu pelaku usaha kecil terlepas dari jeratan rentenir atau lintah darat.

Berdasarkan informasi Bank Kalbar, KUM Peduli memiliki plafon maksimal Rp5 juta dengan jangka waktu maksimal tiga tahun untuk kebutuhan modal kerja maupun investasi.

Bank Kalbar juga menyalurkan KUR untuk mendukung pengembangan UMKM. Skema tersebut mencakup KUR Super Mikro hingga Rp10 juta, KUR Mikro lebih dari Rp10 juta hingga Rp100 juta, serta KUR Kecil di atas Rp100 juta hingga Rp500 juta, dengan ketentuan masing-masing program.

Direktur Utama Bank Kalbar, Rokidi, menempatkan dukungan terhadap UMKM sebagai bagian penting dari peran bank dalam menggerakkan ekonomi daerah.

Baca juga:  Rokidi Sabet Indonesia CEO Excellence Award 2024

Menurutnya, pembiayaan tidak berhenti pada penyaluran kredit. Perbankan juga perlu hadir sebagai mitra bagi pelaku usaha agar mereka mampu mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.

“Bank Kalbar akan terus berupaya memberikan layanan perbankan terbaik kepada masyarakat Kalimantan Barat, termasuk melalui pengembangan layanan dan dukungan terhadap aktivitas perekonomian daerah,” kata Rokidi.

Menatap Pasar

Meski Hartini telah membka outlet yang baru, namun Ia membayangkan Molila Cookies memiliki jangkauan lebih luas, keluar dari Kabupaten Sekadau dan masuk ke pasar Kalimantan Barat.

“Harapan saya Molila Cookies bisa berkembang lebih maju, lebih besar. Semoga nanti kita bisa buka outlet selain dari rumah, bisa keluar lagi dan ke luar kabupaten, insyaallah sampai ke provinsi,” katanya.

Target tersebut membutuhkan kapasitas produksi yang terus meningkat. Namun Hartini sudah memiliki pengalaman menghadapi tahapan pertumbuhan itu.

Ia belajar dari oven kecil, menambah kapasitas ketika permintaan tumbuh, memperbanyak mixer, membuka outlet, menyediakan pembayaran digital, hingga melengkapi produk dengan legalitas. Semua langkah tersebut ia bangun sedikit demi sedikit.

Hartini juga mengingatkan pelaku UMKM lain agar tidak menyerah hanya karena belum memperoleh pembiayaan.

“Untuk kawan-kawan UMKM, khususnya UMKM Center dan binaan Bank Kalbar, jangan berkecil hati. Seandainya belum mendapatkan bantuan, kita usaha lagi, ajukan lagi. Dari kecil sampai besar kita usahakan, supaya usaha kita bisa lebih luas,” ujarnya.

Peran Suami

Ternyata dari bisnis Molila Cookies, Hartini tidak berjalan sendirian. Ia menyebut suaminya, Suardi, dan putrinya, Halila, sebagai bagian penting dari perjalanan usaha tersebut.

Dukungan keluarga menjadi tenaga yang membuat produksi terus berjalan ketika usaha masih bertumpu pada dapur rumah.

Kini, ketika outlet mulai membuka pintunya untuk konsumen, Hartini membawa pengalaman panjang itu bersamanya. Ia tahu usaha tidak selalu bergerak lurus. Ada masa ketika pasar menurun, modal terbatas, peralatan tidak memadai, dan peluang belum terlihat jelas. Namun dari situ pula ia belajar untuk terus mencari jalan.

Kisah Molila Cookies memperlihatkan bagaimana sebuah usaha kecil dapat tumbuh melalui rangkaian keputusan sederhana: berani memulai, membaca kebutuhan pasar, menambah kapasitas, menjaga kualitas, mengurus legalitas, dan memanfaatkan akses pembiayaan secara produktif.

Dari oven rumahan di Sungai Ringin, Hartini kini menatap pasar yang lebih jauh. Nastar Molila Cookies belum selesai berjalan. Justru ketika outlet mulai berdiri dan pasar mulai melebar, perjalanan berikutnya baru dimulai. “Kalau kita saling mendukung, maka UMKM bisa naik kelas,” ujarnya.[biz]

Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times

Share :

Baca Juga

Rochma Hidayati, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Barat.

Ekonomi

Belajar dari Kasus WPONE, Kenali Ciri-ciri Investasi Bodong
Pencari Kepiting

Ekonomi

Pencari Kepiting di Ujung Negeri
Renata Arianingtyas, Direktur Women’s Rights and Inclusion TAF.

Ekonomi

TAF dan DBSF Berdayakan 80 Ribu Perempuan Marginal di Kalbar
Rekening Simpel untuk nak anak Pramuka

Ekonomi

Bank Kalbar Buka SimPel Khusus Pramuka
Macbook Murah

Ekonomi

5 Rekomendasi Macbook Murah, Aman untuk Kantong
Bupati Sambas H Satono dan Wamenkop RI Ferry J Juliantono.

Ekonomi

Sambas Siap jadi Pelopor Kopdes Merah Putih di Wilayah Terluar Indonesia
Bank Kalbar raih IdA dari Pefindo

Ekonomi

Pefindo Sematkan Bank Kalbar Miliki Prospek Stabil
Bupati Sambas bersama jajaran polres Sambas dan masyarakat panen raya Jagung Serentak kuartal III di Desa Simpang Empat, Kecamatan Tangaran, Sabtu (27/9/2025)

Ekonomi

Satono: Panen Raya Jagung Bukti Sinergi Ketahanan Pangan
error: Content is protected !!