Home / Entertainment

Sabtu, 5 September 2026 - 13:44 WIB

Cosplay Pontianak, Mulai dari Hobi hingga Peluang Ekonomi

Nunu dan Ira, dua dari sekian banyak cosplay di Kota Pontianak saat interview di Studio Podcast Satukata.

Nunu dan Ira, dua dari sekian banyak cosplay di Kota Pontianak saat interview di Studio Podcast Satukata.

PONTIANAK – Cosplay di Pontianak tak lagi sekadar aktivitas mengenakan kostum karakter anime, film atau gim. Komunitas ini berkembang menjadi ruang kreativitas yang mempertemukan anak-anak, pelajar, mahasiswa hingga orang dewasa, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui jasa kostum, makeup, crafting, fotografi dan penyelenggaraan event.

Perkembangan itu terungkap dalam Podcast Satukata yang tayang, Rabu (2/9/2026) menghadirkan tiga pegiat cosplay Pontianak, Dandi, Nunu dan Ira. Ketiganya berbagi cerita di studio podcast satukata di Ruko Jalan Pak Benceng Pontianak.

Ira menjadi salah satu saksi panjang perkembangan cosplay di Pontianak. Ia mengupas perjalanan komunitas, proses kreatif, tantangan, hingga masa depan cosplay di Kota Pontianak.

Ira mengaku mulai menekuni cosplay sejak 2008 dan termasuk salah satu perintis komunitas cosplay di kota tersebut. Sementara Dandi mulai aktif sejak 2019 dan Nunu turun langsung dalam kegiatan komunitas sejak 2021.

Menurut mereka, perkembangan cosplay Pontianak berlangsung bertahap. Generasi awal mengenal budaya Jepang melalui tren Harajuku sebelum berkembang menjadi komunitas cosplay yang lebih terorganisasi.

Cosplay merupakan singkatan dari costume play. Aktivitas ini memberi ruang kepada seseorang untuk memerankan karakter yang mereka sukai. Karakter tersebut dapat berasal dari anime, manga, film, gim maupun berbagai tokoh populer lainnya.

Tidak hanya mengenakan pakaian, seorang cosplayer juga memperhatikan makeup, rambut, properti hingga penjiwaan karakter. Karena itu, cosplay kemudian berkembang menjadi sebuah kompetisi yang menuntut kemampuan kreatif dan performa.

Ribuan Orang Terlibat

Perkembangan komunitas cosplay Pontianak terlihat dari jumlah penggemarnya. Para pegiat memperkirakan jumlah orang yang terlibat dalam ekosistem cosplay di Kalimantan Barat sudah mencapai ribuan.

Dalam event besar, jumlah pengunjung dan peserta bahkan dapat mencapai ribuan orang. Salah satu event yang mereka sebut mampu menarik massa dari luar kota hingga sekitar 5.000 orang.

Mayoritas karakter yang dimainkan masih berasal dari Jepang. Para pegiat memperkirakan lebih dari 50 persen karakter yang dimainkan berkaitan dengan anime Jepang. Namun, tren dapat berubah mengikuti popularitas gim, anime atau film yang sedang ramai.

Ketika sebuah film populer, karakter dalam film tersebut ikut menjadi pilihan cosplayer. Begitu pula ketika sebuah gim atau serial anime menjadi perbincangan publik.

Spider-Man, misalnya, menjadi salah satu karakter yang dipilih Dandi ketika filmnya kembali ramai. Ia bahkan mengikuti kegiatan nonton bersama komunitas Marvel Pontianak dengan mengenakan kostum Spider-Man.

Fenomena itu menunjukkan bahwa cosplay juga mengikuti dinamika budaya populer. Namun, bagi para pegiat, mengikuti tren bukan satu-satunya alasan memilih karakter.

Mereka cenderung memilih karakter yang memang disukai. Tren menjadi pertimbangan tambahan, bukan kewajiban.

Bukan Hanya Jepang

Meski Jepang menjadi kiblat utama, cosplay tidak membatasi karakter berdasarkan negara asal. Karakter Amerika, Indonesia dan berbagai negara lain tetap dapat masuk dalam dunia cosplay.

Para pegiat Pontianak bahkan pernah memainkan tokoh nasional Indonesia seperti Bung Tomo dan Pattimura, selain karakter populer seperti SpongeBob dan tokoh gim.

Komunitas memiliki aturan tertentu dalam memilih karakter dan kostum. Salah satunya menghindari kostum bertema politik atau tokoh politik. Dalam event yang berlangsung di ruang publik, aturan kostum juga menjadi perhatian. Kostum yang terlalu terbuka harus disesuaikan dengan ketentuan penyelenggara.

Baca juga:  Arti Mendalam dan Lirik Lagu Tiara

Para pegiat mengaku menerapkan aturan tersebut bukan hanya untuk menjaga kenyamanan pengunjung, tetapi juga melindungi cosplayer, terutama yang masih berusia di bawah umur.

Mereka mengungkapkan, makeup dan kostum terkadang membuat seseorang terlihat jauh lebih dewasa dari usia sebenarnya. Seorang cosplayer yang tampak seperti mahasiswa bisa saja masih duduk di bangku SMP.

Karena itu, komunitas memperhatikan keamanan dalam event. Mereka juga mengantisipasi potensi pelecehan seksual dengan memperketat pengamanan dan memberikan batasan terhadap interaksi pengunjung dengan cosplayer.

Jadi Penghasilan

Di balik kemeriahan kostum, terdapat proses kreatif yang tidak sederhana. Sebagian cosplayer membuat kostum sendiri. Mereka menjahit pakaian, membuat armor, pedang, perisai hingga berbagai properti karakter.

Sebagian lainnya memilih menyewa kostum. Ada pula yang membeli kostum bekas melalui media sosial dan marketplace. Kondisi itu menciptakan ekosistem ekonomi kecil di dalam komunitas. Ada anggota yang membuka jasa penyewaan kostum, makeup cosplay, pembuatan properti hingga menjadi event organizer.

Dandi dan rekan-rekannya bahkan membangun tim yang bergerak dalam penyelenggaraan event cosplay. Salah satu event yang mereka kenalkan adalah Akiba Matsuri.

Bagi mereka, hobi dapat berkembang menjadi sumber pendapatan selama dikelola secara serius. “Jadi ibaratnya kami hobi, tapi kami bisa cari penghasilan dari hobi kami,” ujar salah satu pegiat dalam Podcast Satukata.

Biaya cosplay sangat beragam. Kostum sederhana bisa dibuat dengan anggaran relatif terbatas. Namun, kostum dengan tingkat detail tinggi, khususnya karakter robot atau armor, dapat menghabiskan biaya jutaan rupiah.

Materialnya pun beragam, mulai dari busa, fiber, resin hingga bahan bekas yang diolah kembali. Sebagian maker bahkan membuka jasa pembuatan armor dan properti secara profesional. Keterampilan tersebut kemudian menjadi nilai ekonomi tersendiri.

Profesi Pendukung

Perkembangan cosplay juga melahirkan profesi pendukung. Ada cosplayer yang menyediakan jasa makeup. Ada yang menyewakan kostum. Ada yang membuat armor. Ada fotografer yang mengabadikan karakter. Ada pula penyelenggara event yang menghubungkan komunitas dengan brand.

Harga makeup cosplay, misalnya, berada pada kisaran ratusan ribu rupiah, tergantung tingkat kesulitan dan kebutuhan karakter. Kostum juga memiliki rentang harga yang luas.

Bahan baku menjadi salah satu tantangan. Untuk membuat kostum tertentu, pegiat di Pontianak terkadang harus mendatangkan material dari luar daerah. Biaya pengiriman membuat harga bahan menjadi lebih tinggi dibandingkan kota-kota besar seperti Jakarta.

Keterbatasan itu tidak selalu menjadi hambatan. Sebagian cosplayer justru belajar membuat sendiri kostum dan propertinya. Teknologi digital juga membantu. Tutorial makeup, crafting dan pembuatan kostum tersedia melalui YouTube dan media sosial.

Pengetahuan yang sebelumnya diperoleh melalui pertemuan langsung kini dapat dipelajari secara mandiri.

Event

Jika dahulu para cosplayer rutin melakukan gathering, perkembangan teknologi mengubah cara mereka berinteraksi. Grup WhatsApp dan Instagram menjadi ruang berbagi informasi. Mereka dapat bertukar informasi mengenai tempat membeli bahan, kostum, makeup hingga event yang akan berlangsung.

Baca juga:  Mahasiswa Kalbar Soroti MBG dan Koperasi Merah Putih

Pertemuan tatap muka kini lebih sering berlangsung dalam event. Di sana mereka bertemu, melakukan pemotretan, mengikuti kompetisi sekaligus berbagi pengalaman.

Dalam sebuah event, tidak jarang dua cosplayer tampil sebagai karakter yang sama. Kondisi itu justru menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan membandingkan proses pembuatan kostum.

Dari pertemuan semacam itu, hubungan komunitas berkembang menjadi pertemanan. Jenis kompetisinya pun tidak hanya satu. Ada coswalk, yakni peragaan kostum seperti catwalk. Ada pula cosplay competition yang menuntut peserta menampilkan karakter secara lebih lengkap melalui gerakan, ekspresi dan penjiwaan.

Jumlah peserta dalam sebuah kompetisi dapat mencapai puluhan hingga hampir 100 orang. Salah satu event yang disebut dalam podcast pernah memiliki sekitar 88 peserta dengan karakter yang beragam.

Penyelenggaraan event besar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, komunitas lebih banyak mengembangkan event melalui kolaborasi dengan brand, pusat perbelanjaan maupun pihak lain.

Mereka pernah bekerja sama dengan sejumlah brand dan instansi. Kolaborasi tersebut dapat berbentuk parade cosplay, hiburan, kompetisi maupun rangkaian acara bertema Jepang.

Regenerasi

Cosplay Pontianak juga memiliki rentang usia yang luas. Anak-anak usia sekolah dasar hingga orang dewasa dapat terlibat. Bahkan, ada orang tua yang sebelumnya menjadi cosplayer kemudian mengajak anaknya mengikuti kegiatan serupa.

Komunitas membuka ruang bagi siapa saja yang ingin bergabung. Kostum tidak harus dimiliki sendiri karena tersedia pilihan penyewaan. Bagi para pegiat senior, regenerasi menjadi salah satu perhatian utama.

Mereka menyadari bahwa generasi yang memulai komunitas sejak awal suatu saat akan berhenti. Karena itu, kemampuan membuat kostum, makeup, armor dan berbagai keterampilan lain perlu diwariskan kepada generasi yang lebih muda.

Target mereka bukan hanya menambah jumlah anggota, tetapi meningkatkan kualitas.

Mereka berharap semakin banyak cosplayer Pontianak yang mampu menjadi maker, bukan sekadar membeli atau menyewa kostum. Keterampilan menjahit, membuat armor, crafting dan makeup diharapkan terus berkembang.

Perjalanan cosplay Pontianak menunjukkan bagaimana sebuah hobi dapat berkembang menjadi ekosistem kreatif.

Kostum yang awalnya hanya digunakan untuk kesenangan berubah menjadi karya. Makeup menjadi keterampilan. Armor menjadi produk kerajinan. Event menjadi ruang bisnis. Komunitas menjadi jaringan sosial.

Pada saat yang sama, perkembangan tersebut tetap membutuhkan ekosistem yang mendukung. Para pegiat membutuhkan ruang event, akses bahan baku, kolaborasi dengan brand, kesempatan mengikuti kompetisi dan ruang belajar bagi generasi baru.

Dengan jumlah penggemar yang terus berkembang dan event yang mampu menarik peserta dari luar Kalimantan Barat, cosplay Pontianak memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh.

Bukan hanya menjadi tontonan ketika seseorang tampil sebagai karakter favorit, tetapi menjadi bagian dari industri kreatif yang tumbuh dari tangan anak-anak muda Pontianak sendiri.

Bagi pemula dengan anggaran terbatas, para pegiat memberikan pilihan sederhana. Kostum dapat disewa, makeup dapat menggunakan layanan sesuai kemampuan, atau membuat sendiri dengan memanfaatkan bahan yang tersedia.

Penulis: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times

Share :

Baca Juga

Panitia Festival Tari Multietnik

Entertainment

Ayo Daftar Festival Tari Multietnis Kalbar
Konser Dewa 19

Entertainment

Dewa 19 Siap Menggebrak Kalimantan Barat
ngeri ngeri sedap

Entertainment

Gaya Jenaka Film Ngeri-Ngeri Sedap
Alim Vokalis Band Kris

Entertainment

Arti Mendalam dan Lirik Lagu Tiara
Lagu Tiara

Entertainment

Daur Ulang Lagu Tiara Kembali Booming
Film Before, Now and Then (Nana)

Entertainment

Nana, Kisah Perempuan Korban Pemberontakan
Okky Boy alias Amat

Entertainment

Youtuber Windah Galang Dana untuk Okky Boy
Pengurus MKGR Provinsi Kalbar nonton bareng Film Lyora.

Entertainment

MKGR Provinsi Kalbar Nobar Film Lyora
error: Content is protected !!