PONTIANAK – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, H. Edi Satria, menegaskan keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026 tidak hanya ditentukan oleh kesiapan sistem pelayanan, tetapi juga disiplin, keikhlasan, dan semangat pengabdian seluruh petugas haji.
Hal tersebut disampaikan Edi Satria saat menjadi narasumber dalam Podcast Satukata yang dipandu Ustadz Daday Daruquthni Assundawy pada Jumat, 24 Juli 2026. Dalam perbincangan tersebut, ia membagikan pengalaman selama bertugas melayani jamaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Menurut Edi, petugas haji harus memiliki pola pikir bahwa mereka datang ke Tanah Suci untuk melayani tamu Allah, bukan menjalankan ibadah haji sebagai tujuan utama. Karena itu, setiap petugas dituntut mengesampingkan kepentingan pribadi selama masa penugasan.
“Petugas datang untuk bertugas. Jika niatnya berhaji sambil bertugas, lebih baik menjadi jamaah reguler. Berhaji saat bertugas hanyalah bonus,” ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh petugas mendapatkan pelatihan intensif sebelum diberangkatkan ke Arab Saudi. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang hanya mengikuti bimbingan teknis beberapa hari, pada penyelenggaraan Haji 2026 petugas menjalani pelatihan selama sekitar 20 hari dengan materi pelayanan, kedisiplinan, hingga simulasi penanganan berbagai kondisi di lapangan.
Edi mengungkapkan, tantangan terbesar tahun ini berasal dari tingginya jumlah jamaah yang masuk kategori risiko tinggi (risti) dan lanjut usia. Karena itu, PPIH telah menyiapkan pembagian tugas secara khusus, mulai dari layanan konsumsi, transportasi, akomodasi, kesehatan, hingga pendampingan bagi jamaah lansia dan penyandang disabilitas.
Ia menyebut pelayanan dilakukan secara menyeluruh, termasuk penyediaan kursi roda, koordinasi dengan tenaga kesehatan, hingga pengaturan mobilitas jamaah selama puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Di bidang konsumsi, Edi yang bertugas sebagai koordinator menjelaskan bahwa kualitas makanan menjadi perhatian utama. Setiap menu diperiksa terlebih dahulu sebelum didistribusikan kepada jamaah untuk memastikan makanan layak konsumsi, bergizi, serta sesuai dengan selera masyarakat Indonesia. Bahkan jamaah yang membutuhkan makanan khusus, seperti bubur bagi lansia, langsung difasilitasi oleh petugas.
Lebih Tertib
Selain pelayanan konsumsi, transportasi jamaah juga dinilai berjalan lebih tertib dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bus disiagakan selama 24 jam untuk melayani mobilitas jamaah dari hotel menuju Masjidil Haram maupun selama rangkaian Armuzna. Sistem digital melalui kartu Nusuk juga diterapkan secara ketat sehingga hanya jamaah dan petugas yang memiliki izin resmi yang dapat memasuki area ibadah.
Edi mengatakan pelayanan kepada jamaah dilakukan tanpa pungutan apa pun. Seluruh petugas dilarang menerima imbalan dari jamaah dan diwajibkan memberikan pelayanan sepenuh hati.
“Petugas harus melayani dengan ikhlas. Bahkan ketika jamaah lansia membutuhkan bantuan paling dasar sekalipun, petugas hadir mendampingi tanpa meminta apa pun,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Edi juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap praktik badal haji ilegal maupun oknum yang menawarkan jasa tidak resmi dengan tarif murah. Menurutnya, pelaksanaan badal haji harus melalui mekanisme resmi sesuai ketentuan pemerintah Arab Saudi dan otoritas penyelenggara haji Indonesia.
Menutup perbincangan, Edi berharap penyelenggaraan ibadah haji Indonesia terus mengalami peningkatan kualitas dari tahun ke tahun. Ia menilai keberhasilan pelayanan bukan hanya diukur dari kelancaran operasional, tetapi juga dari kemampuan mengantarkan jamaah menjalankan ibadah secara aman, nyaman, dan kembali ke Tanah Air dengan predikat haji mabrur.
Penulis: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















