Home / Peristiwa

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:06 WIB

Mereka yang Berjibaku di Ladang Api Karhutla

Edy Zulkarnain, Ketua Relawan Peduli Kemanusiaan (RPK) Kalimantan Barat bersama Herman dan Iwan Suryadi saat wawancara di Podcast Satukata.

Edy Zulkarnain, Ketua Relawan Peduli Kemanusiaan (RPK) Kalimantan Barat bersama Herman dan Iwan Suryadi saat wawancara di Podcast Satukata.

PONTIANAK – Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) di sebagian besar wilayah Kalbar telah mendatangkan bencana. Ada jasa besar dari relawan pemadam kebakaran swasta.

Para relawan Karhutla itu turun ke lokasi ketika api mulai membesar, meski harus menghadapi asap pekat, medan gambut, keterbatasan sumber air hingga minimnya dukungan operasional.

“Keberadaan pemadam swasta menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran, khususnya di wilayah Pontianak dan Kubu Raya. Para relawan bergerak berdasarkan laporan masyarakat yang diterima melalui jaringan komunikasi radio,” kata Edy Zulkarnain, Ketua Relawan Peduli Kemanusiaan (RPK) Kalimantan Barat saat menjadi narasumber di Podcast Satukata, Kamis (12/8/2026).

Edy hadir bersama pengurus Pemadam Api Sepakat, Herman, dan relawan pemadam Iwan Suryadi alias Pak Belande, dalam podcast yang dipandu host Uun Yuniar.

Dalam interview podcast tersebut, Edy mengatakan dirinya telah hampir 30 tahun berkecimpung dalam kegiatan pemadaman kebakaran. Ia kini memimpin RPK Kalimantan Barat dan dipercaya sebagai Ketua Harian Forum Komunikasi Kebakaran Swasta Kalimantan Barat.

Radio panggil atau Handy Talky menjadi salah satu perangkat penting bagi para relawan dalam menerima informasi kebakaran dan mengoordinasikan personel di lapangan. Dalam jaringan tersebut, anggota dari Pontianak, Kubu Raya, Mempawah hingga Sekadau ikut memantau informasi.

Edy menjelaskan, pemadam kebakaran swasta berbeda dengan petugas pemadam pemerintah. Salah satu perbedaannya adalah persoalan penghasilan.

Penghasilan

Pemadam pemerintah mendapatkan gaji dan tunjangan, sementara para pemadam swasta menjalankan tugas berdasarkan kepedulian sosial dan kemanusiaan.

Meski demikian, para relawan tetap bergerak ketika menerima informasi adanya kebakaran. Mereka harus menyiapkan kendaraan, bahan bakar, peralatan pemadam hingga kebutuhan personel. Dalam kondisi tertentu, kebutuhan tersebut harus ditanggung secara mandiri atau mengandalkan bantuan dari masyarakat.

“Kalau tidak ada duit, kami di lapangan,” demikian gambaran kondisi yang disampaikan narasumber dalam wawancara mengenai keterbatasan operasional para pemadam swasta yang dipandu host Uun Yuniar.

Keterbatasan tersebut semakin terasa ketika lokasi kebakaran berada jauh dari sumber air. Para relawan bahkan harus menggali parit untuk mendapatkan air sebelum melakukan pemadaman. Kondisi itu menjadi tantangan tersendiri karena kendaraan pemadam tidak selalu dapat menjangkau titik api.

Baca juga:  Polsek Sungai Raya Gelar Jumat Curhat
Asap dan Bara Gambut

Edy mengingatkan para relawan untuk memperhatikan keselamatan dan kesehatan karena asap kebakaran lahan dapat terhirup selama proses pemadaman. Ia menyebut asap sebagai salah satu bahaya yang harus diwaspadai para pemadam ketika berada di lokasi kebakaran.

Karakter lahan gambut juga membuat proses pemadaman tidak sederhana. Bara dapat berada di bawah permukaan tanah sehingga api yang terlihat padam masih berpotensi kembali muncul.

Kondisi tersebut membuat para pemadam harus berhati-hati ketika masuk ke area yang terbakar. Risiko semakin besar ketika api berada di kawasan semak belukar atau dekat permukiman. Para relawan tidak hanya berhadapan dengan panas, tetapi juga kemungkinan api berubah arah dan mengepung posisi mereka.

Dalam wawancara tersebut, Edy menyebut terdapat sekitar 58 kelompok pemadam kebakaran di Kota Pontianak. Sementara di Kabupaten Kubu Raya terdapat lebih dari 20 kelompok pemadam.

Keberadaan kelompok-kelompok tersebut menjadi bagian dari kekuatan masyarakat dalam menghadapi kebakaran. Namun, menurut para relawan, banyaknya kelompok pemadam juga harus diikuti dengan dukungan operasional dan koordinasi yang baik.

Kebutuhan mereka antara lain bahan bakar minyak (BBM), makanan dan minuman, vitamin, serta alat pelindung diri, terutama masker yang sesuai untuk digunakan ketika menangani kebakaran lahan dan hutan.

Edy berharap pemerintah dan para pemegang kebijakan tidak hanya meminta bantuan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga memperhatikan kondisi para relawan yang berada di lapangan.

Menurutnya, dukungan paling dasar sekalipun dapat membantu menjaga semangat para pemadam yang bekerja dalam kondisi berisiko.

Diberdayakan BPBD

Edy mengatakan pemadam swasta sebelumnya pernah bekerja sama dengan BPBD Kota Pontianak melalui program penempatan anggota di sejumlah pos yang telah ditentukan.

Dalam program tersebut, anggota pemadam swasta berjaga di pos-pos untuk mendukung penanganan kebakaran. Mereka juga mendapatkan dukungan operasional.

Baca juga:  88 Jalur Narkoba Internasional di Kalbar

Menurut Edy, pola seperti itu dapat menjadi salah satu bentuk pemberdayaan pemadam swasta.

Pasalnya, kebakaran lahan dan hutan terjadi berulang setiap tahun sehingga diperlukan kesiapsiagaan sebelum kebakaran meluas.

Ia menyebut musim karhutla seolah menjadi agenda tahunan. Karena itu, keberadaan pemadam swasta menurutnya perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem penanganan kebakaran yang terkoordinasi.

Tidak Hanya Api

Para relawan juga memiliki peran sosial lain di luar penanganan kebakaran. Dalam wawancara tersebut juga, Edy menyebut kendaraan pemadam pernah digunakan untuk menyuplai air bagi masyarakat untuk kebutuhan MCK.

Aktivitas tersebut bahkan membuat sejumlah kendaraan pemadam mengalami kerusakan karena menggunakan air payau dan air asin sebagai sumber air baku.

Relawan juga terlibat dalam kegiatan kemanusiaan lain, termasuk layanan ambulans dan pengantaran pasien maupun jenazah.

Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa kelompok pemadam swasta tidak hanya bergerak ketika terjadi kebakaran, tetapi juga menjalankan berbagai kegiatan sosial di tengah masyarakat.

Mengingatkan

Di akhir wawancara, para narasumber mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Pencegahan harus menjadi langkah utama karena dampak kebakaran tidak hanya dirasakan di sekitar lokasi kejadian, tetapi juga dapat mengganggu masyarakat akibat asap.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak asap kebakaran. Para relawan juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila melihat titik api agar pemadam dapat bergerak lebih cepat.

Bagi para relawan, semakin cepat informasi diterima, semakin besar peluang api dikendalikan sebelum meluas. Di balik asap dan kobaran api, para pemadam swasta tetap bergerak dengan peralatan yang mereka miliki.

Mereka bekerja tanpa kepastian gaji, menghadapi risiko kesehatan dan keselamatan, serta mengandalkan solidaritas untuk menjalankan tugas kemanusiaan. Pesan mereka sederhana: jangan membakar lahan dan hutan. Sebab ketika api sudah membesar, para relawanlah yang kembali harus berjibaku di ladang api.

Penulis: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times

Share :

Baca Juga

Penyaluran bendera dan stiker merah putih dari Maxim Kalbar.

Peristiwa

Maxim Kalbar Bagikan Bendera dan Stiker Merah Putih
Pelepasan calon jemaah haji dari keluarga besar Bank Kalbar di Kantor Pusat Bank Kalbar, Selasa (20/5/2025).

Peristiwa

Dirut Bank Kalbar Lepas 17 Orang Naik Haji
Forum Muslimah Indonesia (Formasi) Kalimantan Barat menggelar Aksi Peduli Palestina di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Pembangunan, Kabupaten Sambas, Sabtu (12/10/2025).

Peristiwa

Formasi Kalbar Gelar Solidaritas Palestina di CFD Jalan Pembangunan Sambas
Kebakaran Bangunan Mangkrak Untan

Peristiwa

Bangunan Mangkrak RS Untan Terbakar
Insiden Iqbal Golkar Kubu Raya

Peristiwa

Spekulasi Insiden Ketua Golkar Kubu Raya
Penyelundupan Sabu

Peristiwa

Lagi, Satgas Yonkav 12 BC Gagalkan Sabu
pontianak-times.co.id

Peristiwa

Kanwil Kumham Kalbar Gelar Vaksinasi Booster
gadis gantung diri

Peristiwa

Gadis Pemangkat Gantung Diri Akibat Asmara
error: Content is protected !!