PONTIANAK – Musik death metal identik dengan tempo cepat, dentuman blast beat, dan vokal yang garang. Namun bagi grup band Devourmy asal Kota Pontianak, musik juga menjadi medium untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan hidup, khususnya ancaman deforestasi yang terus menggerus hutan Kalimantan Barat.
Kepedulian itu dituangkan melalui lagu berjudul Land and Forest of Borneo, sebuah karya yang mereka ciptakan pada 2011 sebagai respons atas semakin menyusutnya kawasan hutan di Bumi Khatulistiwa. Lagu tersebut lahir dari keresahan para personelnya yang melihat perubahan bentang alam Kalimantan akibat pembalakan hutan dan alih fungsi lahan.
Gitaris Devourmy, Lakso, mengatakan lagu tersebut berangkat dari kegelisahan seluruh personel terhadap kondisi hutan Kalimantan Barat yang terus mengalami penyusutan.
“Lagu ini menceritakan keprihatinan kita terhadap hutan-hutan yang sudah mulai gundul. Kita prihatin mengapa hutan-hutan di Kalimantan Barat ini makin lama makin susut,” kata Lakso dalam sebuah interview di Satukata Podcast dalam kanal Musicorner, Selasa (21/7/2026).
Lhawatir Banjir
Menurut Lakso, Devourmy mengkhawatirkan akan adanya banjir. “Makanya kita suarakan di dalam lagu Land and Forest of Borneo ini,” ujarnya kepada host Musicorner Uun Yuniar.
Tak hanya mengangkat isu lingkungan melalui lirik, Devourmy juga memasukkan unsur musik tradisional Dayak ke dalam komposisi lagu tersebut. Alunan alat musik sapek dipadukan dengan karakter death metal yang agresif sebagai bentuk penghormatan terhadap identitas budaya Kalimantan.
Lakso menjelaskan, penggunaan unsur etnik Dayak merupakan upaya memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas, termasuk komunitas musik metal internasional.
“Etnik Dayak kita masukkan karena kita di Kalimantan. Kita ingin memperkenalkan kepada masyarakat luar bahwa ada tradisi musik Dayak yang dimainkan dengan alat musik sapek,” ujarnya.
Sementara itu, vokalis Devourmy, Aris, menegaskan soal pesan utama lagu tersebut adalah ajakan untuk menjaga kelestarian hutan Kalimantan yang selama ini menjadi salah satu paru-paru dunia.
“Lirik Land and Forest of Borneo menceritakan keadaan hutan di Indonesia, khususnya Kalimantan Barat. Terlalu banyak pembabatan hutan untuk pembangunan kebun sawit. Sebenarnya dari pihak kami hanya ingin mengingatkan, tetap jaga hutan kita. Takutnya kalau terlalu banyak kebun sawit, nanti habis hutan kita,” ujar Aris.
Menurut Aris, pesan yang disampaikan dalam lagu tersebut masih sangat relevan hingga sekarang. Bahkan, kondisi terkini membuat mereka semakin yakin bahwa isu pelestarian hutan harus terus digaungkan.
“Kalau kami anggap sih masih relevan. Sekarang harusnya lebih ke reboisasi, penanaman kembali supaya hutannya bisa kembali seperti dulu. Kita ingin hutan Kalimantan tetap terjaga dan kembali jaya seperti dulu,” katanya.
Kritik Sosial
Band yang berdiri pada 2010 sebagai proyek sampingan personel Deadsound dan Golgota itu membuktikan bahwa musik ekstrem tidak selalu identik dengan tema kekerasan atau kegelapan. Melalui Land and Forest of Borneo, Devourmy justru menghadirkan kritik sosial sekaligus pesan ekologis yang kuat.
Selama lebih dari 16 tahun berkarya, Devourmy telah tampil di berbagai panggung di Indonesia hingga Malaysia.
Di setiap penampilannya, lagu Land and Forest of Borneo menjadi salah satu karya yang paling mencerminkan identitas mereka sebagai band death metal yang tidak hanya mengandalkan agresivitas musikal, tetapi juga membawa pesan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam Kalimantan.
Penulis: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















