Sambas – Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus mendorong para dai bertransformasi menjadi agen pemberdayaan dan ketahanan pangan di wilayah perbatasan.
Pesan strategis ini disampaikannya saat membuka secara resmi Seminar Internasional dan Upgrading Dai bertema “Strategi Membangun Kedaulatan dari Daerah Perbatasan” di Kantor Bupati Sambas, Kalimantan Barat, Selasa (7/4/2026). Agenda internasional ini dijadwalkan berlangsung selama tiga hari hingga Kamis (9/4/2026).
Menurut Wiyagus, Kabupaten Sambas bukan sekadar daerah perbatasan, melainkan beranda terdepan yang mencerminkan wajah Indonesia. Oleh karena itu, paradigma pembangunan tidak boleh hanya berkutat pada infrastruktur fisik.
“Pembangunan di wilayah ini juga menyangkut penguatan sumber daya manusia, ekonomi, sosial, dan ketahanan masyarakat,” ujar purnawirawan jenderal polisi bintang tiga tersebut.
Ia menegaskan, di era modern ini peran dai harus berevolusi. Dai tidak lagi sebatas penyampai pesan keagamaan secara lisan, tetapi dituntut menjadi penggerak pemberdayaan umat, penguat nilai kebangsaan, serta agen ketahanan pangan yang menjaga harmoni sosial sekaligus kedaulatan negara.
Sejalan dengan Wamendagri, Bupati Sambas H. Satono memaparkan potensi besar geografi dan sumber daya alam wilayahnya, khususnya sebagai lumbung padi dan penopang pangan utama di Provinsi Kalimantan Barat.
“Kami berterima kasih atas kehadiran delegasi dari berbagai negara. Ini menjadi pemicu semangat untuk mewujudkan ketahanan pangan yang kuat di beranda negara,” tutur Satono yang juga menjabat Ketua Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Kalbar.
Satono menaruh harapan besar agar para pendakwah dapat mengambil peran aktif membantu pemerintah dalam menyukseskan program-program strategis nasional, terutama di sektor ketahanan pangan.
komprehensif
Ketua Panitia Pelaksana, Erwin Mahrus, menjelaskan bahwa seminar ini dirancang untuk mempertemukan para pembuat kebijakan, akademisi, dan pendakwah dalam membahas ketahanan pangan serta pengembangan perbatasan secara komprehensif.
“Seminar ini diikuti 101 peserta yang mempresentasikan 65 paper. Kami menghadirkan empat keynote speaker utama dan enam pembicara undangan dari negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Filipina, Thailand, dan Indonesia,” papar Erwin.
Hadir pula dalam agenda tersebut Menteri Industri Makanan Sarawak, Konsul Jenderal RI Kuching, serta para pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Diskusi lintas negara ini diharapkan mampu menelurkan rekomendasi kebijakan konkret serta model pemberdayaan masyarakat berbasis ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Selain sesi akademik, kegiatan yang memperkuat kapasitas literasi keilmuan para dai ini juga dimeriahkan dengan pameran buku serta bazar UMKM yang difasilitasi oleh Diskumindag dan Dekranasda Kabupaten Sambas, dengan dukungan penuh dari Dinas Kesehatan setempat.[edo]
Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Update Berita, ikuti Google News


















