Home / Ekonomi

Senin, 25 Maret 2024 - 15:48 WIB

Sukses Bisnis Keripik Manfaatkan KUR Bank Kalbar

Riana, pelaku UMKM yang sukses bisnis Keripik Pisang dan Handicraft motif Cidayu

Riana, pelaku UMKM yang sukses bisnis Keripik Pisang dan Handicraft motif Cidayu

Pontianak. Jika anda berkunjung atau menginap di Hotel Mercure atau Hotel Neo Pontianak, pasti kenal dengan produk penganan Keripik Pisang 3Bujang.

Keripik Pisang 3Bujang itu dapat diperoleh di gerai Lobi kedua hotel berbintang tersebut. Selain itu juga tersedia di toko souvenir PSP Pontianak, toko Ponti Bonti, Bandara Supadio dan beberapa toko lainnya.

Namanya memang 3Bujang, namun bukan berarti pemiliknya tiga orang yang masih bujangan. Ternyata keriik itu diproduksi dan dikelola oleh seorang perempuan berusia 50 tahun bernama Riana Chaniago.  

Brand 3Bujang dilekatkan si pelaku UMKM yang satu ini untuk mengingatkan tiga orang anak-anaknya dari hasil pernikahannya dengan sang suami, Basuni Gunawan. Kedua dikarunia anak yang semuanya laki-laki alias bujang dalam bahasa Melayu Pontianak.

“Iya, saya punya tiga anak semuanya laki-laki, semua bujang. Makanya usaha ini dilabeli 3Bujang,” ucap Riana Chaniago.

Riana memulai usaha keripik 3Bujang pada 2016 dengan memanfaatkan KUR (Kredit Usaha Rakyat) Bank Kalbar senilai Rp50 juta. Dalam tempo tiga tahun, pinjaman kreditnya lunas, dan keripik 3Bujang pun berkembang hingga memenuhi pesanan dari luar kota.

Pada tahap awal merinis usahanya, Riana memproduksi keripik pisang dalam satu hari sebanyak 50 kilogram. Dalam satu bulan mencapai 1,5 ton hingga 2 ton. Namun ketika pandemi Covid-19 yang melanda pada 2020, keripik 3Bujang ikut terdampak. Jualan Riana jeblok, menurun drastis.

Baru di tahun 2024 kembali membaik, meski belum sepenuhnya normal. Produknya sekarang bisa menghabiskan 1 ton pisang dalam satu bulannya.

Dibantu beberapa pekerja yang sebagian besar adalah sanak keluarga sendiri, Riana melakoni usahanya itu di rumahnya, di Perumnas III, Tanjung Hulu Pontianak, Kalimantan Barat.

Suaminya, Basuni Gunawan (51) yang menguasai teknologi, membuat aplikasi dan web. Sedangkan putra sulungnya yang kini berusia 26 tahun ikut membantu desain kemasan.

Saat ini, Bujang pertama pasangan Riana-Basuni ini, telah menyelesaikan pendidikan S2 di Bandung. Sementara anak bujang keduanya masih duduk di bangku SMA dan ke tiga masih kelas 5 SD di Kota Pontianak.

Keunikan

Apa keunikan Keripik Pisang 3Bujang? Tentu saja, selain kemasannya yang mearik dan higienis. Penganan ringan ini memiliki citarasa unik, terutama bagi para penggemar pisang khas Kalimantan Barat.

Keripik Pisang 3Bujang bukanlah keripik pisang biasa karena memiliki dua rasa, manis dan asin dengan 8 varian. Namun yang best seller atau terlaris adalah empat varian yaitu original, susu, coklat dan balado.

Seiring waktu, bisnis Riana memiliki pangsa pasar tersendiri dengan peminat yang lumayan banyak. Dalam seminggu memerlukan 150 kilogram pisang untuk diproduksi dalam kemasan berukuran 125 gram dan 80 gram, namun ada juga kemasan ukuran jumbo.

Riana dalam kesehariannya, selain memasarkan produk Keripik Pisang 3Bujang di Hotel Mercure Pontianak dan Hotel Neo, ia juga memajang produk handicraft dari kain tenun khas Kalbar, seperti dompet dan tas. Corak bahan yang digunakan pun unik dan menarik. Berbahan kain tenun corak perpaduan tiga etnis Cidayu (Cina, Dayak, Melayu).

Produk Keripik Pisang 3Bujang dan handicraft juga selalu tersedia saat kegiatan pameran-pameran, terutama yang digelar instansi pemerintah seperti Bank Kalbar dan Bank Indonesia.

Satu hal yang membuat bisnis Riana itu masih tetap eksis. Ia mempertahankan konsep ‘limited edition’ atau produk terbatas. Hanya tempat-tempat tertentu saja 3Bujang bisa ditemui.

“Saya tidak mau keripik ini ada di mana-mana, karena penganan keripik pisang kan banyak,” kata Riana seraya menyebut banyak tamu hotel yang membeli produknya untuk oleh-oleh.

Cara itu, kata Riana, agar orang tidak mudah bosan. “Jadi kita membatasi tempat-tempat tertentu saja. Konsumen yang ingin membeli lagi atau membeli dalam jumlah banyak, bisa langsung order,” tutur Riana.

Begitu pula dengan produk kerajinan tenun yang diproduksinya, juga tidak diproduksi dalam jumlah banyak, namun tetap tersedia ketika konsumen ingin membeli.

“Untuk handicraft ini saya tidak mau sembarangan menggunakan kain. Saya ingin berciri khas, karenanya saya pilih corak kain tenun Cindayu. Motif khas Kalbar, ada etnis Dayak, Cina dan Melayu,” jelas Riana.

Riana merasa bersyukur mendapatkan kredit KUR dari Bank Kalbar, sehingga bisa mengembangkan usahanya hinga sekarang. Selain bunganya kecil, proses pun mudah. “Asal semua kelengkapan kita penuhi, prosesnya pasti cepat,” kata Riana.

Ke depan, dia berharap agar perbankan bisa membantu usaha-usaha kecil lainnya. Tidak hanya membantu dana dalam bentuk KUR, tapi juga bisa membantu pelaku usaha kecil yang butuh peralatan usaha, sehingga usaha mereka bisa terus berkembang.(dwi/biz)

Update Berita, ikuti Google News

Share :

Baca Juga

Sekretariat PB Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Jalan Sultan Agung Jaksel. foto: fp PB-HMI

Ekonomi

PB-HMI Desak Pemerintah Gratiskan PCR
Stand Kopi Liberika Kayong Utara

Ekonomi

Kopi Liberika Kayong Utara Andalan Kalbar
Jokowi menandatangani prasasti Terminal Kijing Pelabuhan Pontianak

Ekonomi

Presiden Persilakan Usul Ganti Nama Kijing
Transformasi Digital

Ekonomi

Tips Taklukkan Transformasi Digital 2023
pontianak-times.co.id

Ekonomi

Sekali Coba Pasti Ketagihan Warung Laut
MIC UMKM Singkawang

Ekonomi

MIC di Singkawang Sasar 60 Pelaku UMKM
Penyerahan STDB

Ekonomi

Bupati Kubu Raya Serahkan STDB 500 Petani Sawit Swadaya
spanduk tolak revitalisasi pasar

Ekonomi

Massa Gabungan Kepung Pemkot Singkawang
error: Content is protected !!