PONTIANAK – Sutarmidji menyebut ketersediaan air baku menjadi persoalan utama Perumda Tirta Khatulistiwa menghadapi kemarau dan intrusi air laut.
Mantan Wali Kota Pontianak dan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji menilai Perumda Tirta Khatulistiwa perlu memperkuat cadangan air baku untuk menghadapi kemarau panjang dan intrusi air laut di Sungai Kapuas.
Pernyataan tersebut dikemukakan Sutarmidji dalam podcast satukata yang dipandu host R. Rido Ibnu Syahrie, Jumat (25/9/2026). Podcast mengupas tuntas persoalan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa ata PDAM Pontianak.
“Persoalan utama pengelolaan air bersih di Pontianak bukan lagi kapasitas produksi maupun manajemen, melainkan ketersediaan air baku. Waduk Penepat sebagai salah satu kunci untuk mengatasi persoalan tersebut,” kata Sutarmidji.
Pemilik sapaan Bang Midji ini menegaskan masalah PDAM itu sekarang hanya satu yaitu persediaan air baku. Kapasitas Waduk Penepat yang saat ini digunakan masih terbatas.
“Menurut perkiraannya, area waduk yang berfungsi hanya sekitar 1 sampai 6 hektare sehingga cadangan air tidak mampu menopang kebutuhan dalam waktu panjang ketika intrusi air laut meningkat,” kata Bang Midji dalam Podcast Satukata kanal Public Insight..
Sutarmidji memperkirakan Perumda Tirta Khatulistiwa membutuhkan sedikitnya 1.000 liter air baku per detik untuk menghadapi kebutuhan saat musim kemarau.
Ia menyebut kapasitas produksi air bersih saat ini berada di kisaran 2.000 hingga 2.200 liter per detik. Dalam kondisi kemarau, Perumda dapat mencampur sebagian air baku Sungai Kapuas yang mengalami intrusi dengan cadangan air tawar dari waduk.
“Kalau sekarang kapasitas produksi misalnya 2.200 liter per detik, minimal air baku bisa 1.000 liter per detik,” ujarnya.
Karena itu, menurut Sutarmidji, pemerintah perlu menghitung kapasitas waduk yang sesuai dengan kebutuhan produksi dan jumlah pelanggan.
Usulkan Perluasan Waduk Penepat
Sutarmidji memperkirakan perluasan Waduk Penepat membutuhkan tambahan lahan sekitar 30 hingga 40 hektare. Ia menilai pemerintah kota masih memiliki peluang untuk membebaskan lahan tersebut.
“Kalau perkiraan saya mungkin menambah sekitar 30 sampai 40 hektare,” katanya.
Ia mengungkapkan pernah mengusulkan pembangunan atau perluasan waduk ketika menjabat Gubernur Kalimantan Barat pada 2019. Sutarmidji juga mengaku pernah menyampaikan usulan penyediaan waduk untuk kebutuhan air baku Pontianak kepada pemerintah pusat.
Menurut dia, pemerintah juga pernah memiliki opsi lahan sekitar 48 hektare dari seorang investor untuk pembangunan waduk. Namun, rencana tersebut membutuhkan kajian lebih lanjut, termasuk terkait sumber air baku dari wilayah Punggur.
Desalinasi Mahal
Sutarmidji mengatakan teknologi pengolahan air asin menjadi air tawar memang tersedia. Namun, biaya pengolahannya jauh lebih tinggi dibandingkan pengolahan air baku biasa.
Ia menyebut kajian yang pernah dilakukan saat menjabat Wali Kota Pontianak menunjukkan harga pengolahan air asin dapat mencapai sekitar Rp18.000 per meter kubik. Angka tersebut jauh di atas harga jual air yang ketika itu sekitar Rp3.800 per meter kubik.
Menurut Sutarmidji, teknologi desalinasi juga membutuhkan biaya bahan kimia dan operasional yang tinggi. Sistem tersebut tidak mudah digunakan hanya ketika air menjadi asin karena perangkat harus bekerja secara terus-menerus.
Karena pertimbangan biaya tersebut, ia menilai penyediaan cadangan air tawar melalui waduk menjadi pilihan yang lebih rasional untuk kebutuhan jangka panjang.
Sutarmidji juga menyoroti tingkat kebocoran jaringan. Ia menyebut tingkat kebocoran Perumda pada 2024 masih sekitar 30 persen.
Namun, ia kembali menekankan bahwa penyediaan air baku harus menjadi prioritas utama karena persoalan tersebut menentukan kemampuan Perumda mempertahankan distribusi ketika kemarau dan intrusi air laut terjadi.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi Sungai Kapuas ikut memengaruhi intrusi air laut. Ketika hujan di bagian hulu berkurang dalam waktu cukup lama, debit Kapuas ikut turun sehingga air laut lebih mudah masuk ke sungai.
Pengolahan Chemical
Dalam sistem pengolahan air, Sutarmidji menjelaskan air baku masuk ke instalasi pengolahan air sebelum menjalani proses pengolahan secara kimiawi dan kemudian masuk ke jaringan distribusi.
Namun, proses tersebut menghadapi tantangan ketika air laut masuk ke sumber air baku. Kondisi itu membuat Perumda membutuhkan cadangan air tawar agar dapat mempertahankan kualitas air yang didistribusikan kepada pelanggan.
Sutarmidji juga mengatakan pengolahan air baku normal dengan bahan kimia tidak menjadi persoalan utama dari sisi biaya. Ia merujuk pengalaman pengelolaan Perumda ketika menjabat Wali Kota Pontianak, saat perusahaan daerah tersebut berhasil mencatat keuntungan.
Sutarmidji juga mendorong pemerintah daerah membangun kerja sama lintas kabupaten dan kota untuk memperkuat penyediaan air bersih.
Ia menyebut kebutuhan air baku Pontianak berkaitan erat dengan wilayah sekitar, termasuk Kubu Raya. Menurutnya, kerja sama antarwilayah dapat menjadi bagian dari strategi penyediaan air baku jangka panjang.
Ia menilai pemerintah kota perlu menyiapkan kajian teknis dan kebutuhan kapasitas sebelum mengajukan dukungan kepada pemerintah pusat. “Yang utama tetap air baku. Tidak ada lain,” ujarnya.
Reporter: Jekky hendri I Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















