SAMBAS – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Sambas. Semak belukar dan lahan vegetasi kering di Desa Sekuduk, Kecamatan Sejangkung, terbakar, Jumat (21/8/2026).
Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Kecamatan Sejangkung (HMKS), Muhammad Rasya Alfaed, kepada pontianak times grup, Rabu (26/8/2026) mengatakan kondisi cuaca ekstrem dan kekeringan panjang menjadi dugaan awal pemicu kebakaran.
“Vegetasi yang mengering kemudian memudahkan api menyebar, terlebih saat angin kencang bertiup di lokasi. Kekeringan tahun ini dengan fenomena yang ia sebut Godzilla El Nino,” kata Rasya.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kemarau panjang, penurunan curah hujan, dan kekeringan di sejumlah wilayah. “HMKS mengajak seluruh elemen masyarakat untuk saling menjaga lingkungan dan menanggalkan praktik pembakaran lahan,” ujar Rasya.
Ia menilai kebakaran di Desa Sekuduk harus menjadi peringatan bagi masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla.
Rasya juga meminta pihak terkait meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Ia mendorong patroli rutin untuk memantau titik panas atau hotspot, edukasi larangan membuka lahan dengan cara membakar, serta penguatan sarana pemadaman di wilayah rawan.
Selain itu, HMKS mendorong pengoptimalan sekat kanal atau canal blocking di kawasan gambut serta kesiapan embung dan peralatan pemadam portabel.
Hingga Jumat malam, tim gabungan masyarakat dan relawan berhasil mengendalikan pergerakan api di Desa Sekuduk. Kepolisian masih melakukan penanganan di lokasi.
Rasya mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi kebakaran selama kondisi kemarau berlangsung. Ia juga meminta kepolisian dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) meningkatkan sosialisasi agar masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.[edo]
Editor: R. Rido Ibnu Syahrie I Google News Pontianak Times


















