Home / Ekonomi

Rabu, 4 Februari 2026 - 19:11 WIB

Siasat Bioflok di Gang Sempit, Menyulap Pekarangan Jadi Lumbung Nila

Foto bersama pengurus Kelompok Usaha Rumahan Bioflok.

Foto bersama pengurus Kelompok Usaha Rumahan Bioflok.

Pontianak – Di balik padatnya pemukiman Jalan Tabrani Ahmad, Gang Kencana Lestari 2, sebuah revolusi ekonomi skala rumah tangga sedang bertumbuh.

Apa yang dimulai sebagai aktivitas pengisi waktu luang pada tahun 2020 oleh Bagus Arry Wibowo dan rekan-rekannya, kini bertransformasi menjadi unit ekonomi kreatif yang menantang keterbatasan lahan di jantung Kota Pontianak.

Berada di wilayah RT 04/RW 11, Kelurahan Pal Lima, kelompok usaha ini diberi nama Kelompok Usaha Rumahan Bioflok. Konsepnya mengadopsi teknologi Bioflok.

Teknik ini menjadi jawaban atas stigma bahwa budidaya ikan di lingkungan padat penduduk selalu identik dengan aroma tak sedap dan limbah air.

Bagus Arry Wibowo, atau yang akrab disapa Bowo, menjelaskan kunci keberhasilan mereka terletak pada manajemen air. Mereka memanfaatkan air sungai yang kemudian melalui proses daur ulang (recycle) secara efektif.

“Kualitas air tetap terjaga dan aman digunakan kembali setiap siklus panen. Ini memungkinkan kami beroperasi di pekarangan rumah tanpa mengganggu kenyamanan tetangga,” ujar Bowo ditemui pontianak times, Rabu (4/2/2026).

Secara teknis, efisiensi sistem ini cukup mencengangkan. Hanya dengan tiga kolam terpal, kelompok ini mampu memacu produktivitas tinggi. Kapasitas 800 hingga 1.500 ekor nila per kolam, dengan masa panen setiap tiga bulan sekali. Omzetnya, menyentuh angka Rp8 juta per siklus panen.

Baca juga:  Cawu I April 2025, Bank Kalbar Raup Laba Rp183 M

Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa ketahanan pangan bisa dimulai dari teras rumah.

Pemberdayaan dan Tantangan Infrastruktur

Romi Yanto, Ketua RT sekaligus pembina Kelompok Usaha Rumahan Bioflok, memandang rintisan ini lebih dari sekadar bisnis. Baginya, ini adalah gerakan sosial. Saat ini, beberapa warga telah dilibatkan secara aktif untuk mengelola kolam-kolam tersebut.

Namun, jalan menuju skala industri rumah tangga yang lebih besar masih terganjal kendala klasik: Infrastruktur. Ketergantungan penuh pada aliran listrik untuk sistem aerasi (oksigen) kolam menjadi titik lemah. Tanpa adanya genset sebagai cadangan, risiko kematian ikan saat pemadaman listrik menghantui mereka.

20 Kolam Rangkul Lansia dan Ibu Rumah Tangga

Target ambisius telah dipancang. Jika dukungan infrastruktur dan permodalan mengalir, Romi berencana melakukan ekspansi dari 3 kolam menjadi 20 kolam. Fokusnya bukan lagi sekadar profit, melainkan inklusi sosial.

“Jika kami mendapatkan dukungan tambahan permodalan, kami ingin melibatkan lebih banyak ibu rumah tangga dan para lansia. Tujuannya jelas, meningkatkan ekonomi warga sekitar sekaligus menjaga produktivitas mereka di usia senja,” kata Romi optimis.

Baca juga:  MABM Sambas Sukses Garap Dialog Investasi

Di tengah geliat ekonomi pascapandemi, inisiatif Bioflok di Pal Lima ini menjadi pengingat bahwa inovasi tidak selalu lahir dari gedung perkantoran mewah, melainkan dari gang-gang sempit yang menolak menyerah pada keadaan.

Apa Bioflok?

Secara sederhana, Bioflok berasal dari kata bios (kehidupan) dan floc (gumpalan). Teknik ini adalah teknologi budidaya ikan (biasanya nila atau lele) yang merekayasa limbah kotoran ikan menjadi pakan tambahan secara mandiri.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai cara kerja dan keunggulannya: Dalam kolam konvensional, sisa pakan dan kotoran ikan akan menjadi amonia yang beracun. Namun dalam sistem Bioflok.

  • Probiotik & Karbon: Peternak memasukkan bakteri pengurai (probiotik) dan sumber karbon (seperti molase/tetes tebu) ke dalam air.
  • Aerasi Kuat: Air diaduk menggunakan oksigen dari pompa udara (aerator) secara terus-menerus.
  • Pembentukan Flok: Bakteri tersebut akan memakan amonia dan mengubahnya menjadi gumpalan-gumpalan kecil (flok) yang kaya akan protein. Gumpalan inilah yang kemudian dimakan kembali oleh ikan.

Penulis: Kisra Ramadani | Update Berita, ikuti Google News Pontianak Times

Share :

Baca Juga

Karyawan Bank Kalbar yang senantiasa siap melayani nasabahnya.

Ekonomi

Surprise! Bank Kalbar Cetak Laba Rp139 Miliar di Triwulan I 2026
Panen jagung di areal seluas 2 hektar ini berlokasi di Dusun Sepinggan Besar, Desa Sepinggan, Kecamatan Semparuk.

Ekonomi

Polsek Semparuk Sukses Panen Jagung Perdana
Produk UMKM Sambas

Ekonomi

Sukses..! Pameran UMKM di PLBN Aruk
Kepala Divisi Usaha Syariah Bank Kalbar, Edy Hermawan, mewakili manajemen perusahaan menerima penghargaan sekaligus dalam ajang Marketing & Halal Summit 2026, Kamis (22/1/2026) di Auditorium H.M. Rasjidi, Kementerian Agama RI Jakarta.

Ekonomi

Bank Kalbar Borong Tiga Penghargaan Nasional di Awal 2026
Syarif Amin Muhammad, Ketua Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Barat.

Ekonomi

Syarif Amin Harap Refleksi Akhir Tahun ‘Vitamin’ Pembangunan Kalbar
Sidak Pasar

Ekonomi

Pemkab Mempawah Sidak Pasar Jelang Lebaran
Tanaman jeruk milik Sukiman

Ekonomi

Wow, Kisah Sukses Sukiman Kembangkan Jeruk
Dialog Investasi MABM Sambas

Ekonomi

MABM Sambas Sukses Garap Dialog Investasi
error: Content is protected !!