Home / Historia

Sabtu, 9 September 2023 - 16:39 WIB

Kapal Inggris Tenggelam di Sungai Sebatok

Tiang Kapal Inggris yang tenggelam dan komunitas Pusaka Saprah menemukan granat lempar

Tiang Kapal Inggris yang tenggelam dan komunitas Pusaka Saprah menemukan granat lempar

Sambas. Jejak sejarah tenggelamnya kapal Inggris, Sari Borneo masih terlihat di Sungai Sebatok, Desa Tebing Batu Kecamatan Sebawi. Ini menandakan wilayah Sambas menjadi jalur perdagangan internasional.

Tenggelamnya kapal Sari Borneo utusan Engelsche Tussen Bestuur atau Pemerintahan Tinggi Inggris di Betawi itu terjadi sekitar tahun 1815. Kapal yang mengangkut para pejabat itu menghadiri penobatan sultan.

Mereka membawa surat resmi dari pemerintahan Tinggi Inggris yang berisi pengakuan serta mengesahkan Pangeran Anom sebagai Putra Mahkota.

Dalam buku ‘Asal Usul Kerajaan Sambas’ karya Haji Uray Djalaloeddin Yusuf Dato Ronggo menyebutkan, tahun 1815, Sultan Abu Bakar Tajuddin I mangkat. Sebagai penggantinya kemudian dinobatkan putra mahkota Pangeran Anom menjadi sultan dengan gelaran Sultan Mohammad Ali Tsafioeddin.

Kapal Sari Borneo tersebut melalui jalur Sebatok, sepulangnya dari acara penobatan. Lantaran menabrak batu, akhirnya kandas dan tenggelam. Hingga kini keberadaan kapal itu masih terlihat kerangkanya dan tiang kapal akan terlihat ketika air sungai surut.

Persitiwa tersebut masih sangat dikenal warga Kabupaten Sambas hingga saat ini. Bahkan diabadikan dalam sebuah lagu berjudul Kapal Belon. “Sari Borneo name kapalnye, masuk ke Sambas sangatlah sakal (sulit), kaptennye bodo indak berakar, tantukan batu masih dilanggar (ditabrak)”

Lagu yang bernada sindiran itu mengingatkan pada peristiwa lampau yang terjadi di lokasi sekitar 12 kilometer dari Kota Sambas. Setelah kejadian itu, kapal-kapal besar tidak bisa lagi singgah ke Pelabuhan Sambas.

Pada tahun 1970-an, hanya kapal-kapal kecil yang bisa melewati jalur tersebut dengan kapasitas dibawah 900 ton. Kapal-kapal yang sudah pernah berlabuh ke Sambas melewati perairan Sebatok dintaranya dari Singapura, Panama, Korea, dan Jepang.

Tahun 1980-an, kapal-kapal sangat jarang lalulalang karena sungai semakin dangkal. Terlebih ketika kapal lainnya karam yakni Kapal Efar dari Jakarta yang juga menabrak batu. Pada akhirnya, rute Sungai Sebatok tak pernah lagi dilalui kapal dagang.

Pusaka Saprah

Benda-benda bersejarah kerap ditemukan di lokasi sekitar tenggelamnya kapal. Misalnya saja Komunitas Pusat Kajian Sejarah dan Peradaban Daerah (Pusaka Saprah) yang mulai banyak menggali keberadaan benda-benda bersejarah.

Kamis (7/9/2023) sore, Pusaka Saprah menemukan granat jenis lempar di jembatan Sebatok saat uji coba peralatan Magnet Fishing yang biasa digunakan untuk ekspedisi mencari benda-benda bersejarah. 

“Selain granat, juga ditemukan benda-benda bersejarah lainnya di wilayah Desa Tebing Batu diantaranya koin lama dan bagian dari kapal Sari Borneo,” kata Aan, Ketua Pusaka Saprah.

Aan menjelaskan, Pusaka Saprah belum memiliki fasilitas untuk menyimpan barang bersejarah. Untuk itu pemerintah daerah hendaknya memberikan dukungan untuk menampung barang yang didapat.

“Kita ingin sekali berkolaborasi dengan pihak Pemda Sambas, baik dengan Perpustakaan Daerah ataupun di Bidang Budaya Dinas Pendidikan Kabupaten Sambas,” ujar Aan.

Dengan kerjasama itu diharapkan, bisa bersama-sama melakukan ekspedisi, eksplorasi dan melakukan kajian kajian untuk membukukan ataupun menuliskan semua benda-benda yang ditemukan.

Selain itu, pemerintah daerah diminta Pusaka Saprah untuk mengeluarkan regulasi terkait penerapan pelajaran sejarah lokal, untuk pembelajaran SD, SMP hingga SMA.

Sebelumnya tim Pusaka Saprah melakukan ekspedisi di Puncak Gunung Senujuh, Daerah sange’ Teluk Kembang, Tanjung Kadok Sebangkau. “Kemungkinan nanti kita akan melakukan ekspedisi kembali,namun meliat kondisi dan biaya,” kata Aan. 

Penulis: Yanra I Editor: R. Rido Ibnu Syahrie

Update Berita, ikuti Google News

Share :

Baca Juga

pontianak-times.co.id

Historia

Alasan Mengapa Ibukota Baru Nusantara
Launcing Corak Melayu dan Dayak Salako

Historia

Tombak Raje dan Kearifan Lokal Dayak Salako
Titilah Pekerja Migran di Taiwan

Historia

Tilah, Pekerja Migran Inspiratif di Taiwan
Masjid Bir Ali

Historia

Panitia Haji Keluarkan Imbauan dan Larangan
aksi nyata para habaib dan netizen yang menginisiasi kegiatan Indonesia Mengetuk Arsy yang akan digelar, Senin (19/7/2021) di jejaring sosmed

Historia

Geliat Netizen Indonesia Mengetuk Arsy
Gunung Poteng di Kota Singkawang, Kalimantan Barat. foto: rido

Historia

Saksi Sejarah Transformasi Media
Ekspedisi Geopark Kaldera Toba

Historia

Sambut HPN, SMSI Garap Ekspedisi Toba
Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie saat ekspos rumah adat tionghoa

Historia

Lahan Belum Beres, TCM Undang Pengusaha
error: Content is protected !!