Home / Ekonomi

Kamis, 14 Juli 2022 - 07:57 WIB

Aksi Damai FPMS Protes Harga Sawit Anjlok

Flyer seruan aksi bersama Front Perjuangan Masyarakat Sawit (FPMS) yang menggelar aksi damai, Jumat (15/7/2022)

Flyer seruan aksi bersama Front Perjuangan Masyarakat Sawit (FPMS) yang menggelar aksi damai, Jumat (15/7/2022)

Pontianak. Front Perjuangan Masyarakat Sawit (FPMS) akan menggelar aksi damai, Jumat (15/7/2022) menyikapi anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani.

“Dalam beberapa bulan ini harga TBS merosot tajam dan berdampak terhadap rendahnya daya beli masyarakat dan dampak lainnya,” kata Agus Setiadi, Ketua FPMS dalam siaran persnya.

Dampak lainnya itu, kata Agus, angsuran kredit para petani sawit mulai macet, dan biaya pendidikan anak tersendat. “Anehnya harga pupuk dan pestisida justru tidak turun di tengah anjloknya harga TBS. Sedangkan harga minyak goreng kemasan tetap tinggi,” kata Agus.

Menurut Agus, belum ada gerakan protes dalam bentuk aksi di Kalbar maupun Indonesia seolah ada yang sengaja menahan atau membungkam. Oleh karena itu, Front Perjuangan Masyarakat Sawit menginisiasi aksi damai yang merupakan demo pertama se-Indonesia paska dibukanya keran ekspor CPO akhir Mei 2022.

Baca juga:  Aktivitas Normal Pasca Demo Pedagang Pasar

Aksi damai ini, kata Agus, melibatkan para petani atau pekebun sawit. Peserta aksi akan menyampaikan aspirasi ke ke Kantor Gubernur dan DPRD Kalimantan Barat. “Harapannya pemerintah pusat segera bersikap karena sekitar 60 juta rakyat indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengumumkan penyebab anloknya harga TBS di tingkat petani. Penyebab itu adalah stok minyak mentah atau crude palm oil (CPO) untuk ekspor di tingkat pengusaha masih penuh.

Solusi Zulkifli, mendorong ekspor CPO agar tangki-tangki kembali kosong dan TBS petani dapat diserap kembali. “Persoalan utama adalah bagaimana mendorong agar TBS petani dapat terserap. Pemerintah meminta pelaku usaha membeli TBS dengan harga paling sedikit Rp1.600 per kilogram,” ujar Zulkifli.

Baca juga:  Warga Sadaniang Desak Izin PT AHAL Dicabut

Permintaan Zulkifli untuk minimal harga Rp1.600 perkilogram itu memang masih jauh dibanding Malaysia yang mematok Rp4.500 perkilogram. Harga yang tidak stabil juga dipicu oleh kebijakan internasional soal pengurangan konsumsi sawit di seluruh dunia.

India dan China yang paling banyak membeli sawit dari Indonesia menerapkan pengurangan konsumsi sawit tersebut sehingga berdampak besar kepada harga TBS di Indonesia. Hantaman lainnya datang dari asosiasi kedelai Amerika Serikat yang akan menggelontorkan 3 juta ton minyak kedelai pertahun yang berpotensi menggantikan konsumsi sawit. (rdo)

Share :

Baca Juga

Bupati Sambas H Satono menyerahka bantuan pangan Presiden Prabowo Subianto kepada warga perbatasan, Senin (24/11/2025) di perbatasan Indonesia–Malaysia di Desa Kaliau, Kecamatan Sajingan Besar.

Ekonomi

Bupati Sambas Serahkan Bantuan Pangan Presiden Prabowo di Wilayah Perbatasan
Muhammad Fahmi

Ekonomi

Tanaman Kratom Perlu Dukungan Regulasi
Stand Kopi Liberika Kayong Utara

Ekonomi

Kopi Liberika Kayong Utara Andalan Kalbar
pontianak-times.co.id

Ekonomi

Kabar Gembira, Ada Gerai Zakat Transmart
MIC UMKM Singkawang

Ekonomi

MIC di Singkawang Sasar 60 Pelaku UMKM
Rokidi Direktur Utama Bank Kalbar

Ekonomi

Rokidi Sabet Indonesia CEO Excellence Award 2024
Kantor Bank Kalbar pusat di Jalan Rahadi Usman Pontianak

Ekonomi

Cawu I April 2025, Bank Kalbar Raup Laba Rp183 M
Pupuk Mampan CRF

Ekonomi

CMA Siapkan Pupuk Terbaik Petani Sawit
error: Content is protected !!